PALU – Hasil pertandingan tinju tidak selalu ditentukan melalui knockout atau penghentian oleh wasit.
Jika pertarungan berlangsung sampai ronde terakhir, pemenang dapat ditentukan berdasarkan kartu nilai dari para juri.
Dalam aturan tinju profesional yang digunakan secara luas, penilaian menggunakan sistem 10-Point Must.
Berikut cara memahami sistem tersebut:
1. Pertandingan dinilai oleh 3 juri
Setiap juri memberikan nilai secara terpisah untuk setiap ronde.
Ketiga juri berada di sisi ring dan menilai pertandingan berdasarkan aksi yang mereka lihat selama ronde berlangsung.
2. Pemenang ronde umumnya mendapat 10 poin
Dalam 10-Point Must System, petinju yang dinilai memenangkan suatu ronde mendapat 10 poin.
Petinju yang kalah ronde biasanya mendapat 9 poin atau lebih rendah.
Karena itu, skor 10-9 merupakan skor yang paling umum dalam satu ronde.
3. Skor 10-9 berarti satu petinju memenangkan ronde
Skor 10-9 digunakan ketika seorang petinju dinilai lebih unggul dalam ronde tersebut tanpa dominasi yang sangat besar.
Perbedaan keunggulan dapat berasal dari pukulan bersih, efektivitas serangan, penguasaan ring, atau pertahanan.
4. Skor 10-8 dapat terjadi karena knockdown
Jika seorang petinju memenangkan ronde dan menjatuhkan lawannya sekali, ronde tersebut umumnya dapat dinilai 10-8.
Namun, skor 10-8 juga dapat diberikan tanpa knockdown apabila satu petinju sangat dominan sepanjang ronde.
5. Dua knockdown dapat menghasilkan skor 10-7
Dalam pedoman penilaian ABC, dua knockdown dalam satu ronde dapat menghasilkan skor 10-7.
Jumlah tersebut masih dapat berubah apabila terjadi pengurangan poin karena pelanggaran.
6. Skor 10-10 sangat jarang
Ronde dapat dinilai 10-10 apabila kedua petinju dinilai benar-benar seimbang.
Namun, pedoman juri menyebut skor imbang sebaiknya jarang digunakan karena juri diminta menentukan siapa yang memiliki keunggulan dalam ronde.
7. Knockdown ditentukan oleh wasit
Juri tidak menetapkan sendiri apakah suatu kejadian merupakan knockdown.
Pengurangan nilai akibat knockdown dilakukan ketika wasit menyatakan kejadian tersebut sebagai knockdown.
8. Pelanggaran dapat menyebabkan pengurangan poin
Wasit dapat memerintahkan pengurangan poin apabila terjadi pelanggaran.
Juri kemudian menerapkan pengurangan tersebut pada kartu nilai sesuai instruksi wasit.
Karena itu, petinju yang sebenarnya memenangkan ronde masih dapat kehilangan angka akibat penalti.
9. Pukulan bersih menjadi salah satu kriteria utama
Juri mempertimbangkan pukulan yang mengenai sasaran secara bersih dan efektif.
Jumlah pukulan tidak selalu menjadi satu-satunya ukuran.
Kekuatan dan dampak pukulan juga dapat memengaruhi penilaian.
10. Agresivitas harus efektif
Bergerak maju terus-menerus belum tentu berarti memenangkan ronde.
Agresivitas dinilai apabila menghasilkan serangan yang efektif.
Petinju yang bergerak maju tetapi terus gagal mengenai sasaran belum tentu mendapat keuntungan penilaian.
11. Penguasaan ring turut diperhitungkan
Ring generalship menggambarkan kemampuan petinju mengendalikan tempo, jarak, dan arah pertarungan.
Petinju yang mampu membuat lawan bertarung sesuai pola yang diinginkannya dapat memperoleh keuntungan dalam aspek ini.
12. Pertahanan juga masuk penilaian
Kemampuan menghindari, menangkis, memblokir, atau membuat pukulan lawan tidak efektif juga menjadi bagian dari penilaian.
Karena itu, petinju tidak harus selalu menjadi pihak yang paling banyak menyerang untuk memenangkan ronde.
13. Skor setiap ronde dijumlahkan
Setelah pertandingan berakhir, nilai seluruh ronde pada kartu masing-masing juri dijumlahkan.
Hasil akhir dari 3 kartu juri kemudian digunakan untuk menentukan pemenang apabila pertandingan tidak berakhir melalui knockout atau penghentian.
14. Apa itu unanimous decision?
Unanimous decision atau keputusan mutlak terjadi ketika ketiga juri memilih petinju yang sama sebagai pemenang.
Contohnya:
Juri 1 memilih Petinju A
Juri 2 memilih Petinju A
Juri 3 memilih Petinju A
Maka Petinju A menang melalui unanimous decision.
15. Apa itu split decision?
Split decision terjadi ketika dua juri memilih satu petinju sebagai pemenang, sedangkan satu juri memilih lawannya.
Contohnya:
Juri 1 memilih Petinju A
Juri 2 memilih Petinju A
Juri 3 memilih Petinju B
Petinju A menang melalui split decision.
16. Apa itu majority decision?
Majority decision terjadi ketika dua juri memilih satu petinju sebagai pemenang dan satu juri menilai pertandingan imbang.
Petinju yang dipilih oleh dua juri tetap menjadi pemenang.
17. Pertandingan juga dapat berakhir draw
Jika kartu juri tidak menghasilkan pemenang mayoritas, pertandingan dapat berakhir seri atau draw.
Jenisnya dapat berupa unanimous draw, majority draw, atau split draw tergantung kombinasi kartu nilai.
18. Knockout berbeda dengan keputusan juri
Jika seorang petinju tidak dapat melanjutkan pertandingan setelah hitungan atau pertarungan dihentikan sesuai aturan, pertandingan dapat berakhir dengan KO atau TKO.
Dalam kondisi tersebut, kartu nilai juri biasanya tidak menentukan pemenang akhir seperti pada pertarungan yang berlangsung penuh.
19. Aturan dapat berbeda menurut komisi dan badan pertandingan
Detail aturan, jumlah ronde, prosedur knockdown, maupun mekanisme penilaian dapat mengikuti komisi atletik atau badan yang mengesahkan pertandingan.
Karena itu, aturan resmi laga tetap perlu diperiksa sebelum menilai suatu hasil.
20. Skor akhir tidak selalu menggambarkan jalannya pertarungan secara sederhana
Skor 118-110, misalnya, tidak berarti seorang petinju selalu mendominasi setiap detik pertandingan.
Angka tersebut merupakan hasil penjumlahan penilaian ronde demi ronde.
Karena itu, memahami kartu nilai perlu melihat hasil setiap ronde, bukan hanya total akhirnya.
Sistem penilaian tinju dirancang untuk menilai pertandingan secara ronde per ronde.
Pukulan bersih, agresivitas efektif, penguasaan ring, pertahanan, knockdown, serta penalti dapat memengaruhi nilai yang diberikan juri.