Pergi keluar rumah merupakan bagian biasa dari kehidupan sehari-hari. Anak pergi bersama teman, orang tua menghadiri urusan tertentu, kakak pulang terlambat karena pekerjaan, atau adik berpindah tempat tanpa sempat memberi tahu.
Masalah sering muncul bukan karena seseorang pergi, tetapi karena tidak ada kabar.
Orang yang berada di rumah mulai bertanya-tanya: sudah sampai atau belum, masih di tempat yang sama atau sudah pindah, kapan pulang, dan apakah semuanya baik-baik saja.
Padahal terkadang satu pesan singkat sudah cukup untuk mengurangi kekhawatiran.
1. Memberi Kabar Bukan Berarti Harus Diawasi
Sebagian orang merasa memberi kabar setiap kali keluar rumah seperti sedang diawasi.
Padahal maksudnya bukan begitu.
Memberi kabar adalah cara sederhana untuk menghargai orang-orang yang menunggu di rumah.
Pesannya juga tidak perlu panjang.
“Saya sudah sampai.”
“Sekarang pindah ke tempat lain.”
“Pulang agak terlambat.”
“Sudah dalam perjalanan pulang.”
Beberapa kata seperti itu bisa membuat suasana rumah jauh lebih tenang.
2. Bukan Hanya Anak yang Harus Memberi Kabar
Kebiasaan ini tidak seharusnya hanya dibebankan kepada anak.
Orang tua juga perlu memberi kabar kepada anak ketika pulang terlambat.
Kakak perlu memberi tahu adik jika ada perubahan rencana.
Adik juga sebaiknya tidak menghilang tanpa kabar ketika sedang berada di luar rumah.
Saling memberi kabar sebaiknya menjadi kebiasaan dua arah.
Karena rasa khawatir tidak hanya dirasakan orang tua kepada anak. Anak juga bisa khawatir kepada orang tua. Adik dapat khawatir kepada kakak, begitu pula sebaliknya.
3. Jangan Menunggu Ditanya Baru Memberi Kabar
Salah satu kebiasaan yang sering terjadi adalah baru menjawab setelah beberapa kali ditelepon atau dikirim pesan.
Lebih baik memberi kabar terlebih dahulu.
Misalnya ketika sudah sampai di tujuan, kirim pesan singkat.
Jika rencana berubah, beri tahu.
Jika sebelumnya mengatakan pulang pukul 20.00 tetapi ternyata baru bisa pulang pukul 22.00, cukup sampaikan perubahan tersebut.
Keluarga tidak perlu menebak-nebak.
4. Perubahan Rencana Sebaiknya Disampaikan
Awalnya mungkin pergi ke rumah teman.
Kemudian pindah ke tempat makan.
Setelah itu mungkin ikut ke tempat lain.
Perubahan seperti ini biasa terjadi.
Namun jika orang di rumah hanya mengetahui lokasi pertama, mereka akan kehilangan informasi ketika mencoba menghubungi.
Karena itu, jika tujuan berubah cukup beri kabar sederhana bahwa sekarang sedang berada di tempat lain.
Tidak harus menjelaskan setiap langkah secara rinci.
Yang penting keluarga mengetahui keadaan dasarnya.
5. Pulang Terlambat Tidak Selalu Menjadi Masalah Jika Dikabarkan
Kadang pekerjaan belum selesai.
Kendaraan bermasalah.
Hujan turun.
Ada teman yang membutuhkan bantuan.
Atau ada urusan lain yang membuat waktu pulang berubah.
Hal seperti ini bisa terjadi kepada siapa saja.
Yang sering membuat masalah justru bukan keterlambatannya, melainkan tidak adanya kabar.
Orang di rumah dapat memahami keterlambatan ketika mereka mengetahui penyebabnya.
6. Ponsel Seharusnya Membantu Keluarga Lebih Tenang
Hampir setiap orang sekarang membawa ponsel.
Kita bisa berbicara dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya, melihat video dari berbagai negara, dan mengetahui banyak hal dalam hitungan detik.
Namun terkadang perangkat yang begitu canggih itu lupa digunakan untuk mengirim pesan paling sederhana:
“Saya sudah sampai.”
Teknologi seharusnya membuat komunikasi keluarga semakin mudah, bukan justru membuat anggota keluarga semakin sulit mengetahui keadaan satu sama lain.
7. Memberi Kabar Juga Berhubungan dengan Keselamatan
Ada alasan lain mengapa kebiasaan ini penting.
Jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, keluarga setidaknya mempunyai informasi terakhir.
Mereka mengetahui seseorang pergi ke mana, kapan terakhir memberi kabar, atau dengan siapa sebelumnya berada.
Informasi seperti ini dapat sangat membantu ketika keluarga perlu mencari atau menghubungi seseorang.
Karena itu, memberi kabar bukan hanya soal sopan santun.
Ada unsur keselamatan di dalamnya.
8. Jangan Membuat Orang Rumah Menunggu dalam Ketidakpastian
Menunggu seseorang yang belum pulang sementara tidak ada kabar dapat membuat pikiran bergerak ke berbagai kemungkinan.
Sudah ditelepon tetapi tidak dijawab.
Pesan belum dibalas.
Jam semakin malam.
Kekhawatiran seperti ini sebenarnya sering dapat dicegah.
Jika memungkinkan, berikan kabar sebelum orang di rumah mulai mencari.
Kita mungkin merasa semuanya baik-baik saja karena sedang berada bersama teman atau sibuk dengan pekerjaan.
Namun orang di rumah tidak mengetahui apa yang sedang kita ketahui.
9. Anak Juga Perlu Diajarkan Mengapa Memberi Kabar Itu Penting
Anak sebaiknya tidak hanya diperintah:
“Kalau keluar harus kasih kabar.”
Jelaskan alasannya.
Katakan bahwa orang tua ingin mengetahui keadaannya bukan karena ingin menguasai hidupnya, tetapi karena khawatir jika sesuatu terjadi.
Anak yang memahami alasan sebuah kebiasaan biasanya lebih mudah menjalankannya dibandingkan anak yang hanya menerima larangan.
Pelajaran ini juga membantu anak belajar menghargai perasaan orang lain.
10. Orang Tua Jangan Menggunakan Kabar untuk Mengontrol Berlebihan
Kebiasaan memberi kabar juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi pengawasan yang membuat anggota keluarga merasa tidak dipercaya.
Jika seseorang sudah mengatakan sedang berada di suatu tempat dan semuanya baik-baik saja, tidak selalu perlu menanyakan lokasi setiap beberapa menit.
Tujuannya adalah memberikan rasa aman, bukan menciptakan tekanan.
Kepercayaan tetap penting.
Komunikasi seharusnya membuat hubungan lebih nyaman, bukan membuat seseorang merasa sedang diperiksa setiap saat.
11. Jika Sulit Menghubungi, Cari Cara Lain
Ada kalanya baterai ponsel habis.
Jaringan tidak tersedia.
Ponsel rusak.
Atau keadaan tertentu membuat seseorang tidak dapat menghubungi keluarga.
Jika memungkinkan, gunakan cara lain.
Meminjam telepon teman, mengirim pesan melalui orang yang bersama kita, atau memberi kabar sebelum memasuki daerah yang sulit jaringan dapat menjadi pilihan.
Hal sederhana seperti membawa daya cadangan ponsel juga dapat membantu ketika bepergian cukup lama.
12. Satu Pesan Pendek Bisa Menjaga Ketenangan Satu Rumah
Saling memberi kabar bukan aturan rumit.
Tidak membutuhkan aplikasi khusus.
Tidak membutuhkan biaya besar.
Yang dibutuhkan hanya kebiasaan untuk mengingat bahwa ada orang di rumah yang mungkin sedang menunggu.
Anak kepada orang tua.
Orang tua kepada anak.
Kakak kepada adik.
Adik kepada kakak.
Dan siapa pun yang tinggal bersama keluarga.
Keluar rumah bukan berarti harus kehilangan kebebasan.
Tetapi ketika ada orang yang menyayangi kita dan menunggu kepulangan kita, memberi kabar adalah bentuk sederhana dari menghargai mereka.
Kadang satu pesan yang hanya berbunyi:
“Saya sudah sampai, jangan khawatir.”
cukup untuk membuat satu rumah kembali tenang.