PALU – Gangguan mesin ketika berada di laut dapat membuat perahu kehilangan kemampuan untuk melanjutkan perjalanan dan terbawa arus menjauh dari lokasi awal.

Kondisi tersebut dapat semakin berisiko apabila terjadi pada malam hari, cuaca memburuk, alat komunikasi tidak tersedia, atau keberadaan perahu tidak diketahui keluarga.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan atau Basarnas mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di laut untuk mempersiapkan kondisi kapal, mesin, perlengkapan keselamatan, dan alat komunikasi sebelum berangkat.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Periksa mesin sebelum berangkat

Pastikan mesin dalam kondisi layak digunakan sebelum meninggalkan daratan.

Pemeriksaan dapat mencakup bahan bakar, sistem penggerak, serta komponen yang diperlukan untuk perjalanan.

Gangguan mesin di tengah laut dapat menyebabkan perahu hanyut mengikuti arah angin dan arus.

2. Pastikan bahan bakar mencukupi

Basarnas mengingatkan pentingnya kesiapan bahan bakar, termasuk cadangan yang memadai sesuai kebutuhan perjalanan.

Perjalanan sebaiknya diperhitungkan berdasarkan jarak, lama aktivitas, dan kondisi perairan.

3. Gunakan perlengkapan keselamatan

Life jacket atau baju pelampung perlu tersedia sesuai jumlah orang yang berada di atas perahu.

Perlengkapan keselamatan lain dapat disesuaikan dengan ukuran dan jenis kapal.

Dalam keadaan darurat, penggunaan pelampung menjadi salah satu perlindungan penting apabila kondisi perahu memburuk.

4. Bawa alat komunikasi

Telepon genggam, radio komunikasi maritim, maupun alat komunikasi lain yang sesuai sangat penting ketika terjadi keadaan darurat.

Peralatan sebaiknya dipastikan memiliki daya yang cukup dan terlindung dari air.

Radio komunikasi juga dapat digunakan untuk komunikasi darurat, komunikasi antarkapal, serta menerima informasi keselamatan dan cuaca.

5. Segera hubungi pihak di darat

Ketika mesin mati dan tidak dapat segera diperbaiki, informasikan keadaan kepada keluarga, pemilik kapal, nelayan lain, atau pihak berwenang.

Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula upaya bantuan dapat dipersiapkan.

6. Sampaikan posisi perahu

Jika perangkat memungkinkan, kirim posisi atau koordinat terakhir kepada pihak yang dihubungi.

Informasi lokasi sangat membantu tim pencarian menentukan area awal operasi SAR.

Jika koordinat tidak tersedia, sampaikan perkiraan posisi berdasarkan pulau, rompong, pelabuhan, atau tanda lokasi lain yang dikenal.

7. Informasikan jumlah orang di atas perahu

Ketika meminta pertolongan, sampaikan jumlah orang yang berada di atas kapal atau Person on Board.

Data tersebut membantu petugas mempersiapkan personel dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pencarian serta evakuasi.

8. Jelaskan ciri perahu

Sampaikan jenis, ukuran, warna, nama kapal jika ada, serta ciri lain yang dapat membantu proses identifikasi.

Informasi mengenai rute keberangkatan dan tujuan juga dapat membantu memperkirakan lokasi pencarian.

9. Berikan waktu dan lokasi terakhir

Sampaikan kapan gangguan mulai terjadi dan lokasi terakhir yang diketahui.

Jika komunikasi kemudian terputus, informasi tersebut dapat digunakan sebagai salah satu dasar menentukan area pencarian.

10. Hubungi Basarnas melalui 115

Dalam keadaan darurat yang membutuhkan pencarian dan pertolongan, masyarakat dapat menghubungi Call Center Basarnas melalui nomor 115.

Basarnas kemudian dapat melakukan koordinasi dengan unsur SAR lain sesuai kondisi kejadian.

11. Jangan menunda laporan terlalu lama

Perahu yang kehilangan tenaga penggerak dapat terus berpindah karena arus dan angin.

Semakin lama waktu berlalu, area pencarian dapat menjadi semakin luas.

Karena itu, keluarga atau pihak yang mengetahui kejadian sebaiknya segera melaporkan apabila komunikasi terputus atau orang yang berada di laut belum kembali sesuai perkiraan.

12. Jaga alat komunikasi tetap dapat digunakan

Setelah berhasil menghubungi pihak di darat, usahakan alat komunikasi tetap tersedia untuk menerima panggilan lanjutan.

Petugas dapat membutuhkan informasi tambahan mengenai posisi, kondisi perahu, cuaca, atau keadaan orang di atas kapal.

13. Pantau perubahan cuaca

Kondisi cuaca di laut dapat berubah dengan cepat.

Jika masih memiliki akses komunikasi atau informasi cuaca, perhatikan perkembangan angin, gelombang, dan peringatan dini.

BMKG menyediakan informasi cuaca maritim dan peringatan gelombang tinggi untuk berbagai wilayah perairan Indonesia.

14. Jangan memaksakan keberangkatan ketika cuaca tidak mendukung

Kementerian Kelautan dan Perikanan mengimbau nelayan menunda aktivitas apabila kondisi cuaca membahayakan.

Informasi mengenai tinggi gelombang, kecepatan angin, dan potensi cuaca ekstrem dapat diperiksa melalui BMKG sebelum berangkat.

15. Beritahu keluarga mengenai rencana melaut

Sebelum berangkat, keluarga sebaiknya mengetahui tujuan, perkiraan lokasi penangkapan ikan, waktu keberangkatan, dan perkiraan waktu kembali.

Informasi tersebut akan sangat membantu apabila nelayan tidak kembali sesuai jadwal.

16. Perhatikan kelaikan perahu

Keselamatan bukan hanya bergantung pada mesin.

Kondisi lambung kapal, perlengkapan navigasi, alat keselamatan, dan peralatan komunikasi juga perlu diperiksa sebelum berangkat.

17. Jangan bergantung pada telepon sebagai satu-satunya alat komunikasi

Pada lokasi tertentu, jaringan telepon seluler dapat sulit diperoleh.

Untuk kapal yang membutuhkan perangkat komunikasi maritim, radio dapat memberikan jalur komunikasi tambahan ketika berada jauh dari jangkauan seluler.

18. Peralatan penanda keadaan darurat dapat membantu pencarian

Pada kapal yang dilengkapi perangkat seperti Emergency Position Indicating Radio Beacon atau EPIRB, alat tersebut dapat membantu memberikan informasi lokasi keadaan darurat kepada sistem pencarian dan pertolongan.

Jenis peralatan yang diperlukan dapat berbeda sesuai ukuran dan ketentuan kapal.

19. Ikuti arahan tim SAR ketika bantuan tiba

Ketika tim pencarian menemukan perahu, ikuti instruksi petugas mengenai proses evakuasi, penggunaan pelampung, pemindahan penumpang, atau penarikan kapal.

Proses penyelamatan perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan seluruh orang yang terlibat.

20. Persiapan sebelum berangkat tetap menjadi langkah utama

Kasus mati mesin tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya, tetapi dampaknya dapat dikurangi dengan kesiapan kapal, mesin, bahan bakar, alat keselamatan, alat komunikasi, dan informasi cuaca.

Mengetahui posisi serta memastikan keluarga mengetahui rencana perjalanan juga dapat mempercepat proses pencarian apabila keadaan darurat terjadi.

Aktivitas melaut memiliki risiko yang berbeda dengan perjalanan di darat karena bantuan tidak selalu dapat tiba dalam waktu singkat.

Karena itu, kesiapan sebelum keberangkatan dan kemampuan berkomunikasi ketika terjadi gangguan menjadi bagian penting dari keselamatan di laut.