PARIGI MOUTONG, SULTENG EASY - Kabupaten Parigi Moutong yang selama ini menjadi lumbung pangan utama di Sulawesi Tengah kini mulai melakukan lompatan besar menuju era pertanian digital. Sistem pendataan lahan yang dahulu lekat dengan tumpukan kertas dan perkiraan manual, perlahan mulai ditinggalkan dan beralih ke layar gawai.
Langkah modernisasi ini terlihat jelas ketika 50 penyuluh pertanian dari lima kecamatan berbeda—yakni Sausu, Balinggi, Torue, Parigi Selatan, dan Parigi—dikumpulkan di Ruang Pertemuan Desa Purwosari, Kecamatan Torue, pada Kamis (8/10). Melansir publikasi dari Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah, puluhan ujung tombak pertanian ini mengikuti pembekalan teknis penggunaan Sistem Informasi Pertanian Modern Advance Agricultural System (SIPMAAS).
Inisiatif kolaborasi antara Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Torue dan BRMP Sulteng ini bukan sekadar pelatihan administrasi biasa. Penanggung jawab kegiatan dari BRMP, Muchtar, SP., MP., yang hadir sebagai pemateri utama, secara langsung melatih para penyuluh untuk memanfaatkan teknologi spasial (pemetaan ruang).
Peserta tidak hanya diajarkan membuat akun, tetapi juga praktik langsung membuat "poligon lahan" agar luas wilayah sasaran terpeta dengan sangat akurat. Mereka kini dibekali kemampuan untuk menginput progres harian penanaman padi secara tertib dan mandiri.
Mengakhiri Era Data "Kira-Kira": Apa Keuntungannya Bagi Petani?
Bagi masyarakat awam, pelatihan aplikasi ini mungkin terdengar sebatas urusan birokrasi pemerintahan pendukung program PM-AAS. Namun, dalam skala ketahanan pangan dan kesejahteraan petani, migrasi ke pendataan pelaporan Luas Tambah Tanam (LTT) digital ini adalah urusan yang sangat krusial.
Selama ini, validitas data pertanian sering menjadi tantangan tersendiri di lapangan. Data "kira-kira" sering kali memicu efek domino, mulai dari rentannya distribusi pupuk bersubsidi yang salah sasaran atau kurang kuota, hingga kegagalan pemerintah mengantisipasi fluktuasi harga gabah saat panen raya tiba.
Dengan beroperasinya aplikasi SIPMAAS di tangan para penyuluh, kondisi riil di pematang sawah kini dapat ditarik dan dipantau secara mutakhir (up-to-date). Data pelaporan yang presisi inilah yang akan menjadi pijakan atau basis pertimbangan utama pemerintah merumuskan kebijakan yang pro-petani.
Lompatan pemanfaatan teknologi di Parigi Moutong ini menjadi bukti nyata. Bahwa di Sulawesi Tengah, digitalisasi kini tidak hanya menjadi monopoli kawasan industri hilirisasi semata, tetapi sudah mulai mengakar kuat hingga ke sektor agraria demi mengamankan target swasembada pangan nasional.
Artikel ini merupakan hasil kurasi redaksi Sulteng Easy. Baca rilis berita selengkapnya di situs resmi https://sulteng.brmp.pertanian.go.id/berita/tingkatkan-akurasi-data-pertanian-penyuluh-di-parigi-moutong-ikuti-pembekalan-aplikasi-sipmaas