PALU – Gempa bumi dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga mengetahui langkah penyelamatan yang tepat menjadi bagian penting dari kesiapsiagaan masyarakat, terlebih bagi warga yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti Sulawesi Tengah.

Pada Senin, 21 September 2026 sekitar pukul 15.31 WITA, gempa kembali mengguncang wilayah Pantai Utara Banggai, Sulawesi Tengah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat parameter awal gempa bermagnitudo 5,3 yang kemudian dimutakhirkan menjadi M5,1 dengan kedalaman 14 kilometer. Pusat gempa berada di laut sekitar 26 kilometer barat daya Pulau Puah.

BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. Namun masyarakat tetap diminta berhati-hati terhadap kemungkinan gempa susulan.

Gempa tidak dapat diprediksi secara pasti kapan akan terjadi. Karena itu, kesiapan sebelum dan tindakan yang tepat saat guncangan berlangsung dapat membantu mengurangi risiko cedera.

Berikut beberapa langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi gempa bumi:

1. Lindungi kepala dan tubuh

Jika berada di dalam bangunan, segera lindungi kepala dan tubuh dari benda yang berpotensi jatuh. Berlindunglah di bawah meja atau perabot yang kokoh jika memungkinkan.

Jauhi kaca, jendela, lemari tinggi, lampu gantung, dan benda lain yang dapat pecah atau roboh.

2. Jangan panik berlari saat guncangan kuat

Tetap berada di tempat yang relatif aman selama guncangan berlangsung. Hindari berlari tanpa memperhatikan kondisi sekitar karena benda yang jatuh atau pecahan kaca dapat menyebabkan cedera.

Setelah guncangan berhenti dan kondisi memungkinkan, lakukan evakuasi dengan tertib.

3. Jangan gunakan lift

Jika berada di gedung bertingkat, jangan menggunakan lift ketika melakukan evakuasi setelah gempa.

Gunakan tangga biasa atau jalur evakuasi yang telah ditentukan setelah situasi memungkinkan untuk keluar dengan aman.

4. Jika berada di luar, jauhi bangunan dan tiang

Saat gempa terjadi ketika berada di luar ruangan, menjauhlah dari gedung, tiang listrik, papan reklame, pohon besar, serta benda lain yang berpotensi roboh.

Cari area terbuka dan perhatikan kondisi tanah di sekitar karena rekahan atau perubahan permukaan tanah dapat terjadi.

5. Jika sedang berkendara, cari tempat aman

Jika sedang mengendarai kendaraan, kurangi kecepatan dan cari lokasi yang aman untuk berhenti.

Hindari berhenti di bawah jembatan, jaringan listrik, pohon besar, papan reklame, atau di dekat bangunan yang berpotensi mengalami kerusakan.

6. Jauhi pantai setelah gempa

Jika berada di kawasan pantai, waspadai kemungkinan bahaya tsunami setelah terjadi gempa.

Jauhi garis pantai dan ikuti informasi serta arahan resmi dari BMKG dan petugas berwenang.

7. Waspadai daerah rawan longsor

Masyarakat yang berada di kawasan perbukitan atau pegunungan perlu menjauhi lereng yang berpotensi mengalami longsor akibat guncangan.

8. Setelah gempa, periksa kondisi bangunan

Jangan terburu-buru kembali memasuki bangunan yang mengalami retak atau kerusakan.

Periksa kemungkinan kebakaran, kebocoran gas, kerusakan instalasi listrik, pipa air, serta benda lain yang dapat menimbulkan bahaya.

9. Siapkan perlengkapan darurat

Siapkan perlengkapan dasar untuk kondisi darurat seperti kotak P3K, senter atau lampu baterai, radio, persediaan air minum, serta makanan.

10. Pantau informasi dari sumber resmi

Setelah gempa, waspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan.

Pantau informasi melalui BMKG, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, serta kanal resmi lainnya.

Hindari menyebarkan informasi mengenai gempa, tsunami, jumlah korban, maupun kerusakan apabila sumbernya belum dapat dipastikan.

Kesiapsiagaan tidak dimulai ketika gempa sudah terjadi. Mengenali jalur keluar rumah, titik berkumpul, lokasi aman, hingga membicarakan rencana evakuasi bersama keluarga dapat dilakukan jauh sebelum bencana terjadi.