PALU – Informasi gempa bumi yang diterbitkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG biasanya memuat sejumlah parameter seperti magnitudo, kedalaman, lokasi episenter, skala MMI, serta potensi tsunami.
Masing-masing parameter memiliki arti berbeda.
Memahami istilah tersebut membantu masyarakat membaca informasi gempa dengan lebih tepat dan tidak hanya berpatokan pada satu angka.
Berikut penjelasannya:
1. Magnitudo menunjukkan ukuran gempa
Magnitudo digunakan untuk menggambarkan ukuran atau kekuatan gempa berdasarkan energi yang dilepaskan dari sumber gempa.
Semakin besar nilai magnitudo, semakin besar ukuran gempa yang tercatat.
Namun, magnitudo tidak secara langsung menunjukkan seberapa kuat guncangan yang dirasakan di setiap wilayah.
2. Satu gempa memiliki satu nilai magnitudo utama
Untuk satu kejadian gempa, BMKG menetapkan parameter magnitudo berdasarkan hasil analisis.
Sementara itu, tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat dapat berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lain.
Karena itu, magnitudo dan intensitas guncangan tidak boleh dianggap sebagai hal yang sama.
3. Parameter awal dapat diperbarui
Dalam beberapa menit pertama setelah gempa, sistem dapat menghasilkan parameter awal secara cepat.
BMKG mengingatkan bahwa parameter gempa real-time pada menit-menit pertama dapat berubah setelah dilakukan analisis dan pemutakhiran oleh ahli seismologi.
Karena itu, apabila terdapat perbedaan antara informasi awal dan informasi berikutnya, gunakan parameter terbaru dari BMKG.
4. Episenter adalah pusat gempa di permukaan Bumi
Episenter merupakan titik di permukaan Bumi yang berada tepat di atas sumber gempa di dalam Bumi.
BMKG biasanya menjelaskan lokasi episenter menggunakan koordinat serta jarak dan arah dari wilayah tertentu.
Contohnya dapat ditulis sebagai pusat gempa berada 30 km timur laut suatu daerah.
5. Hiposenter merupakan sumber gempa di dalam Bumi
Hiposenter adalah lokasi sumber gempa yang berada di dalam Bumi.
Kedalaman hiposenter kemudian ditampilkan dalam satuan kilometer.
Episenter berada di permukaan, sedangkan hiposenter berada di bawah permukaan Bumi.
6. Kedalaman menunjukkan posisi sumber gempa
Informasi seperti kedalaman 10 km menunjukkan perkiraan kedalaman sumber gempa dari permukaan Bumi.
Kedalaman menjadi salah satu parameter yang digunakan BMKG untuk menganalisis karakteristik kejadian gempa.
7. Gempa dangkal dapat menghasilkan guncangan kuat di sekitar sumber
Gempa dengan sumber relatif dangkal dapat menghasilkan guncangan yang kuat di wilayah dekat pusat gempa.
Namun, kedalaman bukan satu-satunya faktor yang menentukan dampak gempa.
Jarak dari pusat gempa, kondisi tanah, karakter batuan, kualitas bangunan, dan sejumlah faktor lain juga dapat memengaruhi guncangan yang dirasakan.
8. Magnitudo besar belum tentu berarti guncangan sama di semua tempat
Satu gempa dapat dirasakan kuat di wilayah tertentu tetapi jauh lebih lemah di daerah lain.
Semakin jauh suatu wilayah dari sumber gempa, karakter guncangan yang diterima dapat berbeda.
Kondisi geologi setempat juga dapat memengaruhi tingkat guncangan.
9. Skala MMI berbeda dengan magnitudo
BMKG menggunakan Modified Mercalli Intensity atau MMI untuk menjelaskan tingkat guncangan dan dampak gempa yang dirasakan pada suatu lokasi.
MMI bukan ukuran besarnya energi gempa.
Skala ini menggambarkan bagaimana gempa dirasakan dan dampak yang muncul di tempat tertentu.
10. I MMI merupakan tingkat paling rendah
Pada I MMI, getaran umumnya tidak dirasakan kecuali dalam keadaan tertentu oleh beberapa orang.
Gempa tetap dapat terekam oleh alat meskipun masyarakat tidak merasakannya.
11. II MMI mulai dirasakan oleh sebagian orang
Pada II MMI, getaran dapat dirasakan beberapa orang dan benda ringan yang tergantung dapat bergoyang.
Dampaknya masih relatif kecil.
12. III MMI terasa nyata di dalam rumah
Pada III MMI, getaran dapat dirasakan nyata di dalam rumah.
BMKG menggambarkannya seperti sensasi ketika sebuah truk melintas.
13. IV MMI dapat dirasakan banyak orang
Pada IV MMI, getaran pada siang hari dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah dan beberapa orang di luar rumah.
Pintu atau jendela dapat berderik dan benda tertentu dapat bergerak.
14. V MMI dirasakan hampir seluruh penduduk
Pada V MMI, getaran dapat dirasakan hampir semua penduduk.
Barang tertentu dapat terpelanting atau bergoyang dan sebagian orang yang sedang tidur dapat terbangun.
15. VI MMI mulai berkaitan dengan kerusakan ringan
Pada tingkat VI MMI, guncangan dirasakan seluruh penduduk dan dapat menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan tertentu.
Semakin tinggi intensitas MMI, semakin besar potensi dampak yang dapat muncul.
16. Intensitas MMI dapat berbeda dalam satu kejadian gempa
Satu gempa dapat menghasilkan VI MMI di satu kota, IV MMI di wilayah lain, dan hanya II–III MMI di daerah yang lebih jauh.
Karena itu, ketika membaca berita gempa jangan hanya mengambil nilai MMI tertinggi lalu menganggap seluruh wilayah mengalami kondisi yang sama.
17. MMI menjelaskan kondisi di lokasi tertentu
Jika BMKG menulis III MMI di Palu dan II MMI di Donggala, angka tersebut menggambarkan estimasi atau laporan intensitas di masing-masing wilayah.
Bukan berarti magnitudo gempa berubah antara Palu dan Donggala.
18. Peta guncangan disebut shakemap
BMKG dapat menggunakan shakemap atau peta tingkat guncangan untuk menggambarkan distribusi intensitas gempa.
Peta tersebut membantu menunjukkan wilayah yang menerima tingkat guncangan berbeda.
19. Lokasi gempa di laut tidak otomatis berarti tsunami
Gempa yang berpusat di laut tidak otomatis menimbulkan tsunami.
Penentuan potensi tsunami memerlukan analisis berbagai parameter oleh BMKG.
Karena itu, jangan menyimpulkan sendiri potensi tsunami hanya berdasarkan lokasi gempa yang berada di laut.
20. Magnitudo besar juga tidak boleh digunakan sendirian untuk menentukan tsunami
Besarnya magnitudo merupakan salah satu informasi penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang digunakan untuk menentukan potensi tsunami.
Lokasi, kedalaman, mekanisme sumber, serta parameter lainnya perlu dianalisis.
Gunakan pernyataan resmi BMKG mengenai berpotensi tsunami atau tidak berpotensi tsunami.
21. Perhatikan status peringatan tsunami
Jika BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami, perhatikan wilayah yang masuk dalam peringatan serta pembaruan yang dikeluarkan kemudian.
Status peringatan dapat diperbarui berdasarkan perkembangan hasil pemantauan.
22. Jangan menunggu informasi media sosial tidak resmi
Untuk gempa yang dirasakan kuat, terutama di wilayah pantai, gunakan informasi dari BMKG dan InaTEWS.
Jangan mendasarkan keputusan keselamatan pada pesan berantai atau unggahan yang sumbernya tidak jelas.
23. Gempa susulan disebut aftershock
Setelah gempa utama, dapat terjadi gempa bumi susulan atau aftershock.
Jumlah dan magnitudonya dapat berbeda pada setiap kejadian.
BMKG melakukan pemantauan dan dapat memperbarui jumlah gempa susulan berdasarkan hasil monitoring.
24. Gempa susulan tidak dapat ditentukan hanya dari perasaan
Getaran yang terasa setelah gempa utama belum tentu harus ditafsirkan sendiri.
Gunakan data BMKG untuk mengetahui apakah telah tercatat aktivitas gempa susulan.
25. Waktu pada informasi gempa perlu diperhatikan
Informasi BMKG mencantumkan waktu terjadinya gempa.
Pastikan memperhatikan tanggal, jam, serta zona waktu yang digunakan.
Untuk berita di Sulawesi Tengah, waktu lokal menggunakan WITA atau UTC+8.
26. Jangan keliru antara waktu gempa dan waktu rilis informasi
Waktu terjadinya gempa dapat berbeda beberapa menit dengan waktu informasi diterbitkan.
BMKG membutuhkan proses deteksi dan analisis sebelum informasi dapat dirilis.
Karena itu, periksa bagian waktu kejadian, bukan hanya waktu unggahan.
27. Koordinat menunjukkan lokasi gempa
BMKG dapat mencantumkan koordinat berupa lintang dan bujur.
Koordinat membantu menunjukkan posisi episenter secara lebih tepat.
Untuk pembaca umum, informasi jarak dan arah dari kota atau kabupaten terdekat biasanya lebih mudah dipahami.
28. Mekanisme sumber menjelaskan cara batuan bergerak
Dalam analisis lanjutan, BMKG dapat menjelaskan mekanisme sumber gempa seperti sesar mendatar, sesar naik, sesar turun, atau kombinasi pergerakan.
Informasi ini membantu ahli menjelaskan proses tektonik yang menyebabkan gempa.
Masyarakat tidak perlu menentukan mekanisme sumber sendiri hanya dari lokasi gempa.
29. Jangan langsung menyimpulkan sesar penyebab gempa
Lokasi gempa yang berdekatan dengan suatu sesar belum otomatis membuktikan sesar tersebut sebagai penyebab.
Penentuan sumber gempa memerlukan analisis lokasi, kedalaman, mekanisme sumber, dan data seismologi lainnya.
Gunakan analisis resmi BMKG apabila penyebab gempa telah diumumkan.
30. Gempa kecil tetap dapat dirasakan
Gempa dengan magnitudo relatif kecil dapat dirasakan apabila sumbernya dekat atau dangkal.
Sebaliknya, gempa yang lebih besar tetapi berada jauh atau sangat dalam dapat menghasilkan karakter guncangan berbeda.
Karena itu, jangan menggunakan angka magnitudo saja untuk memperkirakan bagaimana gempa dirasakan.
31. Informasi real-time belum tentu merupakan parameter final
Halaman gempa real-time BMKG secara khusus memberikan peringatan bahwa dalam beberapa menit pertama parameter dapat berubah dan belum tentu akurat sebelum dianalisis ulang.
Untuk penulisan berita, gunakan pembaruan terbaru apabila BMKG sudah menerbitkan hasil analisis.
32. Informasi gempa dirasakan berbeda dengan daftar gempa real-time
Tidak semua gempa yang terekam alat akan dirasakan masyarakat.
BMKG menyediakan informasi Gempa Dirasakan untuk kejadian yang memiliki laporan atau estimasi guncangan yang dirasakan pada wilayah tertentu.
33. Jangan menyebut kerusakan hanya berdasarkan MMI
Skala intensitas dapat memberikan gambaran potensi dampak, tetapi laporan kerusakan nyata tetap perlu diverifikasi dari lapangan.
Jika belum ada informasi resmi, jangan menyatakan suatu bangunan rusak hanya karena wilayah tersebut tercatat mengalami intensitas tertentu.
34. Periksa apakah BMKG sudah memberikan parameter update
Informasi awal dapat segera diikuti hasil analisis yang lebih lengkap.
Dalam sejumlah kejadian, BMKG menggunakan istilah parameter update setelah analisis dilakukan.
Gunakan angka terbaru tersebut ketika memperbarui berita.
35. Gunakan kanal resmi BMKG
Informasi resmi mengenai gempa dapat diperiksa melalui bmkg.go.id, InaTEWS, aplikasi InfoBMKG, WRS-BMKG, serta kanal resmi BMKG yang terverifikasi.
Informasi resmi menjadi penting terutama ketika beredar berbagai angka atau klaim berbeda setelah gempa.
Memahami informasi gempa tidak cukup dengan melihat angka magnitudo.
Pembaca perlu melihat lokasi episenter, kedalaman, intensitas MMI, wilayah yang merasakan guncangan, parameter terbaru, serta keterangan potensi tsunami dari BMKG.
Jika informasi awal berubah, gunakan pembaruan resmi terbaru karena parameter gempa dapat disempurnakan setelah dilakukan analisis lebih lanjut.