PALU, SULTENG EASY – Geliat perputaran uang di Kota Palu menunjukkan tren yang cukup positif pada paruh pertama tahun 2026. Berdasarkan data agregat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), nilai konsumsi rumah tangga warga ibu kota Sulawesi Tengah ini tercatat mengalami peningkatan secara nominal.
Pada triwulan pertama 2026, angka konsumsi rumah tangga bertengger di kisaran Rp5,39 triliun. Memasuki triwulan kedua, nilainya merangkak naik menjadi Rp5,69 triliun. Terdapat penambahan perputaran uang sekitar Rp295,11 miliar atau tumbuh 5,47 persen dibandingkan tiga bulan sebelumnya.
Meski angka rupiahnya menebal, porsi kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap keseluruhan perekonomian (PDRB) Kota Palu justru sedikit menyusut. Pada triwulan pertama, sektor ini menyumbang 59,88 persen, namun pada triwulan kedua turun tipis menjadi 58,57 persen. Penurunan porsi ini mengindikasikan bahwa sektor-sektor ekonomi lain di Kota Palu tumbuh dengan kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan laju konsumsi masyarakat.
Berkaca dari Pola Belanja 2025
Sebagai gambaran dan pembanding, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS pada Maret 2025 mencatat rata-rata pengeluaran penduduk Kota Palu berada di angka Rp1.823.248 per kapita setiap bulannya.
Dari jumlah tersebut, mayoritas pengeluaran warga dihabiskan untuk kebutuhan non-makanan yang mencapai Rp1.071.160 (58,75 persen). Sementara itu, porsi untuk kebutuhan makanan tercatat sebesar Rp752.088 (41,25 persen). Tingginya porsi belanja non-makanan kerap menjadi salah satu indikator baiknya kualitas hidup masyarakat perkotaan.
Daya Beli Riil Masih Tanda Tanya
Kendati tren konsumsi agregat pada 2026 meningkat sebesar 5,47 persen, para analis ekonomi menilai bahwa angka tersebut belum cukup konklusif untuk menyimpulkan adanya lonjakan daya beli maupun kesejahteraan riil masyarakat.
Hal ini mengingat nilai PDRB dihitung menggunakan indikator harga berlaku. Artinya, kenaikan nilai konsumsi bisa saja lebih dipengaruhi oleh lonjakan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa) atau bertambahnya jumlah penduduk, alih-alih kemampuan setiap rumah tangga yang benar-benar bisa membeli lebih banyak barang dari sebelumnya.
Tren kemiskinan di Kota Palu sendiri sejatinya terus menunjukkan kurva penurunan yang konsisten sejak Maret 2020 hingga Maret 2025 (dengan batas garis kemiskinan Rp685.888 per kapita/bulan). Namun, tren positif hingga 2025 tersebut belum tentu berlanjut mulus di tahun ini.
Kepastian mengenai membaiknya kesejahteraan warga Kota Palu baru dapat disimpulkan secara komprehensif apabila hasil Susenas Konsumsi dan Pengeluaran Maret 2026 resmi dirilis dan disandingkan dengan indikator inflasi serta kondisi ketenagakerjaan daerah terkini.
Ringkasan Data Ekonomi:
* Wilayah Kajian: Kota Palu, Sulawesi Tengah.
* Konsumsi Triwulan I 2026: Rp5,39 triliun (Porsi PDRB: 59,88%).
* Konsumsi Triwulan II 2026: Rp5,69 triliun (Porsi PDRB: 58,57%).
* Perubahan Nominal: Tumbuh Rp295,11 miliar (Naik 5,47%).
* Pengeluaran Per Kapita (Data 2025): Rp1.823.248 per bulan (41,25% makanan, 58,75% non-makanan).
* Kesimpulan Analisis: Arah konsumsi bernilai positif secara nominal, namun pengukuran daya beli riil masih menunggu rilis Susenas BPS Maret 2026.