PALU, SULTENG EASY – Jika kita melihat semangat warga yang berjuang mencari nafkah setiap hari, satu hal yang pasti terlihat adalah kemandirian. Masyarakat kita sesungguhnya tidak menuntut banyak hal yang berlebihan kepada pemerintah. Sejak pagi buta hingga malam hari, warga rela memeras keringat dengan modal dan tenaga sendiri, asalkan diberikan satu hal mendasar: kemudahan dalam menjalankan usahanya.
Namun di tengah perjuangan mandiri tersebut, masih ada satu kekeliruan mendasar yang sering kali berulang di banyak tempat dan mematahkan semangat masyarakat kecil.
Kekeliruan yang Sering Terjadi: Saat Usaha Mulai Tumbuh, Justru Dimatikan Seketika
Banyak pelaku usaha kecil merintis dagangannya dari bawah dengan penuh kesabaran. Ketika usaha masyarakat tersebut akhirnya mulai dikenal pembeli, ramai dikunjungi, dan roda ekonominya mulai berkembang, entah mengapa langkah mereka justru sering dihentikan seketika oleh kebijakan penertiban.
Berbagai alasan klasik kerap muncul ke permukaan: mulai dari instruksi relokasi ke tempat baru, dianggap bukan pada tempatnya, hingga dinilai mengganggu aktivitas yang lain. Padahal, tumbuh kembangnya usaha rakyat secara mandiri di titik tersebut adalah cara tercepat untuk terbang menuju peningkatan pendapatan ekonomi, baik bagi keluarga pedagang maupun bagi perputaran uang di daerah.
Bayangkan Jika Harus Pindah: Berarti Memulai Kembali dari Awal Lagi
Bagi orang yang duduk di balik meja, memindahkan lokasi pedagang mungkin terlihat sederhana seperti menggeser barang dari satu titik ke titik lain. Namun bagi pelaku usaha kecil, pindah tempat berarti memulai kembali semuanya dari awal lagi.
Ketika sebuah usaha dipaksa pindah:
1. Pelanggan Tetap Langsung Hilang: Pembeli yang sudah terbiasa singgah karena lokasinya mudah dijangkau belum tentu mau menyusul ke lokasi relokasi yang baru.
2. Merintis Kepercayaan dari Titik Nol: Pedagang harus kembali menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya untuk mengenalkan ulang tempat barunya kepada masyarakat.
3. Modal Habis untuk Bertahan: Alih-alih terbang meningkatkan pendapatan ekonomi, tabungan yang baru sedikit terkumpul justru habis terpakai untuk menomboki sepinya pembeli di tempat baru.
Gunakan Pemikiran Ekonomi, Bukan Sekadar Pemikiran Tata Kelola yang Kaku
Di sinilah cara pandang para pemangku kebijakan perlu diluruskan. Mengatur kota atau daerah tidak boleh hanya didasarkan pada pemikiran tata kelola semata yang menurut kacamata birokrasi terlihat rapi dan baik, tetapi justru menghilangkan faktor paling utama di dalamnya, yaitu kemajuan ekonomi masyarakat.
Tata kelola yang mematikan perputaran uang warga bukanlah tata kelola yang berhasil. Sebaliknya, pemikiran ekonomi yang sehat akan melihat keramaian usaha warga sebagai potensi emas yang harus dijaga dan difasilitasi langsung di tempat itu juga:
Jika sebuah kawasan usaha rakyat mulai ramai dan dianggap mengganggu kelancaran jalan, solusinya bukan menggusur atau memindahkan pedagangnya, melainkan petugas hadir mengatur arus lalu lintas dan menata ruang parkirnya agar pembeli nyaman dan jalan tetap lancar.
Jika tempat usaha warga dianggap kurang rapi, pemerintah hadir memperbaiki fasilitas dan kebersihan di lokasi tersebut tanpa harus mencabut warga dari titik rezekinya.
Masyarakat tidak menuntut bantuan yang muluk-muluk. Ketika ada usaha warga yang mulai berkembang, biarkan mereka tumbuh dan bantu mereka agar semakin maju di tempatnya. Menjaga usaha rakyat tetap hidup tanpa ketakutan akan dipindahkan adalah kunci tercepat membawa ekonomi daerah terbang tinggi dan menyejahterakan masyarakat luas.