MOROWALI – Sekitar 150 orang mengikuti aksi unjuk rasa yang digelar Pemerintah Desa Topogaro di depan Kantor Folili PT BTIIG, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Rabu, 30 September 2026.
Aksi membawa sejumlah tuntutan terkait penyelesaian persoalan Dusun Folili, dampak debu yang dikeluhkan masyarakat, transparansi pengelolaan dana CSR, pemberdayaan warga, serta rekrutmen tenaga kerja lokal.
Setelah berlangsung sejak pagi, perwakilan masyarakat dan manajemen PT BTIIG melakukan dialog yang menghasilkan sejumlah agenda tindak lanjut.
1. Lima Tuntutan Dibawa dalam Aksi
Massa meminta perusahaan memberikan perhatian khusus terhadap masyarakat Dusun Folili dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dinilai belum tuntas.
Masyarakat juga meminta adanya tanggung jawab dan kompensasi terkait dampak aktivitas perusahaan yang mereka keluhkan.
Tuntutan lainnya adalah transparansi serta pengelolaan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR agar lebih jelas dan tepat sasaran.
Massa turut mendorong peningkatan pemberdayaan masyarakat Desa Topogaro serta meminta perhatian lebih besar terhadap perekrutan tenaga kerja lokal.
Keluhan mengenai dampak debu dan kondisi kesehatan merupakan pernyataan yang disampaikan masyarakat dalam aksi. Belum terdapat hasil pemeriksaan teknis maupun medis dalam laporan yang dapat memastikan sumber debu ataupun hubungan langsung dengan kondisi kesehatan tertentu.
2. Massa Sempat Dorong-mendorong di Depan Kantor Folili
Persiapan aksi telah dilakukan sejak sekitar pukul 06.00 WITA di Kantor Desa Topogaro.
Massa kemudian bergerak menuju Kantor Folili PT BTIIG dan mulai melakukan orasi sekitar pukul 08.10 WITA.
Sekitar pukul 08.30 WITA sempat terjadi dorong-mendorong ketika massa meminta perwakilan manajemen perusahaan menemui mereka secara langsung.
Tidak terdapat laporan mengenai korban maupun kerusakan dalam kejadian tersebut.
Komunikasi kemudian dilakukan untuk mempertemukan perwakilan masyarakat dengan pihak perusahaan melalui dialog.
3. Keluhan Debu Jadi Salah Satu Pembahasan Utama
Dalam pertemuan sekitar pukul 09.30 WITA, Kepala Desa Topogaro Hamid Dewanto meminta PT BTIIG mengambil langkah konkret terkait persoalan debu yang dikeluhkan masyarakat.
Ia meminta perusahaan mempertimbangkan langkah seperti pemeriksaan kesehatan masyarakat dan penanganan langsung di wilayah yang terdampak.
Pihak PT BTIIG menyampaikan bahwa perusahaan masih menunggu hasil pengambilan sampel oleh Dinas Lingkungan Hidup sebagai dasar untuk mengetahui kondisi yang terjadi.
Manajemen menyatakan akan bertanggung jawab apabila hasil pemeriksaan menunjukkan permasalahan debu berasal dari aktivitas perusahaan.
Perusahaan juga menyebut telah melakukan sejumlah langkah, antara lain menutup area stockpile batu bara serta melakukan penyiraman pada area yang menghasilkan debu.
4. Masyarakat Minta Penanganan Tidak Menunggu Aksi
Perwakilan masyarakat dalam dialog menyampaikan bahwa persoalan di Desa Topogaro diharapkan dapat ditangani lebih cepat tanpa harus menunggu munculnya aksi.
Mereka juga meminta penyiraman jalan menuju Dusun Folili dilakukan secara rutin.
Selain itu, terdapat keluhan mengenai pipa air masyarakat yang disebut tertimbun material menyerupai debu dan diminta segera ditindaklanjuti.
Pihak masyarakat menilai persoalan Folili telah berlangsung cukup lama sehingga membutuhkan kepastian penyelesaian.
5. Transparansi CSR Turut Dipersoalkan
Pengelolaan dana CSR menjadi salah satu isu yang dibawa dalam aksi.
Massa meminta program CSR tidak hanya berbentuk kegiatan seremonial, tetapi diarahkan pada pembangunan dan kebutuhan masyarakat secara nyata.
Dalam dialog juga dibahas isu yang beredar mengenai dugaan Kepala Desa Topogaro menerima kompensasi debu dan dana CSR.
Hasil pertemuan mencatat bahwa informasi tersebut dinyatakan tidak benar.
6. Perusahaan Jelaskan Mekanisme Rekrutmen Tenaga Kerja
Rekrutmen tenaga kerja lokal juga menjadi pembahasan.
Manajemen HRD PT BTIIG menjelaskan bahwa informasi lowongan di kawasan disampaikan kepada pemerintah desa melalui jalur yang telah disiapkan.
Tahapan perekrutan juga disebut diinformasikan kepada pemerintah desa.
Menurut perusahaan, pada saat dialog berlangsung terdapat penerimaan tenaga kerja nonkeahlian di area FreeNow, sedangkan posisi lain yang tersedia antara lain operator dan juru bicara.
Perusahaan juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan dugaan pungutan liar dalam proses perekrutan agar dapat ditindaklanjuti berdasarkan bukti yang tersedia.
7. Relokasi Folili Menunggu Pembahasan Harga
Persoalan relokasi Dusun Folili menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan.
Tim legal PT BTIIG menyampaikan bahwa tindak lanjut persoalan Folili telah diteruskan kepada pimpinan perusahaan.
Perusahaan mengakui masih terdapat persoalan mengenai harga bangunan baru yang perlu dibahas lebih lanjut.
Berdasarkan hasil dialog, akan dilakukan pengukuran terhadap rumah-rumah di Dusun Folili.
Setelah pimpinan perusahaan, Mr. Gao, tiba di lokasi, pembahasan harga direncanakan dilakukan secara individual dengan masing-masing pemilik rumah.
Persoalan pipa air yang dikeluhkan masyarakat juga akan ditindaklanjuti.
8. Pertemuan Lanjutan Dijadwalkan di Balai Desa Topogaro
Pertemuan antara perwakilan masyarakat dan perusahaan selesai sekitar pukul 11.05 WITA.
Salah satu hasilnya adalah kesepakatan untuk kembali melakukan pertemuan di Balai Desa Topogaro pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Waktu pelaksanaan pertemuan lanjutan belum ditentukan dalam laporan.
Forum tersebut direncanakan kembali membahas tuntutan masyarakat serta langkah tindak lanjut yang harus dilaksanakan.
Setelah hasil pertemuan disampaikan, massa mulai meninggalkan kawasan PT BTIIG.
Seluruh rangkaian aksi berakhir sekitar pukul 11.30 WITA.
Dengan adanya pertemuan lanjutan, penyelesaian persoalan relokasi Folili, keluhan debu, CSR, dan rekrutmen tenaga kerja lokal masih bergantung pada tindak lanjut kesepakatan antara masyarakat, pemerintah desa, perusahaan, dan instansi terkait.