JAKARTA – Nilai tukar rupiah memasuki pekan terakhir September 2026 dalam posisi tertekan dan berada sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Pada perdagangan Senin, 28 September 2026, rupiah ditutup di posisi Rp17.978 per dolar AS atau melemah 0,42 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Memasuki periode 29 September hingga awal Oktober 2026, pergerakan rupiah diperkirakan masih fluktuatif dengan sejumlah faktor global dan domestik menjadi penentu utama.
Proyeksi pasar menempatkan rupiah dalam kisaran sekitar Rp17.800–Rp18.100 per dolar AS selama pekan ini.
1. Level Rp18.000 Masih Rawan Diuji
Posisi rupiah yang telah berada di Rp17.978 per dolar AS membuat level Rp18.000 kembali menjadi perhatian pasar.
Proyeksi pekan ini menempatkan rupiah pada rentang Rp17.800 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Artinya, rupiah masih memiliki peluang bergerak kembali di bawah Rp18.000 apabila tekanan eksternal mereda, tetapi juga dapat melewati level tersebut apabila dolar AS, imbal hasil obligasi, dan harga minyak tetap kuat.
Rentang tersebut merupakan proyeksi pasar dan bukan kepastian mengenai posisi rupiah pada setiap hari perdagangan.
Pergerakan mata uang dapat berubah cepat mengikuti perkembangan data ekonomi dan sentimen global.
2. Dolar AS dan Yield Treasury Jadi Tekanan Utama
Salah satu faktor terbesar yang akan menentukan arah rupiah adalah kekuatan dolar Amerika Serikat.
Indeks dolar AS berada di sekitar level tertinggi dalam dua bulan pada akhir September, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS juga meningkat.
Yield US Treasury tenor 10 tahun telah bergerak di atas 5 persen.
Kenaikan imbal hasil membuat aset berdenominasi dolar AS lebih menarik bagi investor dan dapat mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu tekanan bagi rupiah serta sejumlah mata uang Asia lainnya.
Selama yield obligasi AS bertahan tinggi dan dolar tetap kuat, ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek berpotensi terbatas.
3. Kebijakan The Fed Akan Sangat Menentukan
Pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan kondisi yang lebih kuat dari perkiraan.
Pasar pada akhir September memperhitungkan peluang lebih dari 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober.
Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar dan meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Sejumlah data ekonomi penting AS yang akan dirilis pada pekan ini, termasuk data inflasi dan ketenagakerjaan, dapat mengubah ekspektasi tersebut.
Jika data AS kembali kuat, dolar berpotensi memperoleh tambahan dukungan. Sebaliknya, data yang lebih lemah dari perkiraan dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
4. Harga Minyak Dunia Masih Menjadi Risiko
Harga minyak juga menjadi faktor penting bagi pergerakan rupiah.
Harga Brent berada di atas US$100 per barel pada akhir September, dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan perkembangan konflik di Timur Tengah.
Sebagai negara yang masih membutuhkan impor minyak dan produk energi, kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS.
Kondisi tersebut dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah apabila berlangsung dalam waktu lama.
Harga minyak yang tinggi juga dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global sehingga mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Karena itu, perkembangan harga minyak dan situasi geopolitik menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan sepanjang pekan ini.
5. Bank Indonesia Pertahankan BI-Rate 5,75 Persen
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22–23 September 2026.
Keputusan tersebut diarahkan antara lain untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
BI juga memperkuat instrumen stabilisasi melalui transaksi di pasar valuta asing serta kebijakan yang diarahkan untuk menarik aliran modal asing.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat sebesar US$146,5 miliar.
Jumlah tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 5,4 bulan impor dan berada di atas standar kecukupan internasional.
Cadangan devisa menjadi salah satu bantalan yang dapat digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar ketika volatilitas pasar meningkat.
6. BI Kurangi Intervensi Langsung di Pasar Spot
Strategi stabilisasi Bank Indonesia juga mengalami perubahan.
BI mengurangi porsi intervensi valuta asing melalui pasar spot menjadi sekitar 30 persen dari keseluruhan intervensi karena mempertimbangkan biaya.
Bank sentral lebih banyak menggunakan instrumen lain untuk menjaga stabilitas rupiah.
Perubahan strategi tersebut tidak berarti BI menghentikan intervensi.
Bank Indonesia tetap menyatakan akan melakukan stabilisasi melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar luar negeri.
Efektivitas langkah BI menjadi salah satu hal yang akan diperhatikan pasar apabila rupiah kembali melewati Rp18.000 per dolar AS.
7. Arus Modal Asing Ikut Menentukan
Pergerakan dana asing juga akan memengaruhi nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan.
Pada triwulan III 2026 hingga 21 September, investasi portofolio asing tercatat masih membukukan arus masuk bersih sekitar US$0,4 miliar.
Namun, tekanan global dapat dengan cepat mengubah arah aliran dana.
Investor cenderung memindahkan dana menuju aset dolar ketika imbal hasil AS meningkat atau ketidakpastian global membesar.
Karena itu, masuk atau keluarnya dana asing dari pasar Surat Berharga Negara dan pasar saham akan menjadi salah satu indikator penting bagi arah rupiah.
8. Rupiah Sudah Melemah Sekitar 7 Persen Sepanjang 2026
Tekanan terhadap rupiah bukan hanya terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Reuters mencatat rupiah telah kehilangan sekitar 7 persen nilainya terhadap dolar AS sepanjang 2026 hingga akhir September.
Pada pekan lalu saja, rupiah melemah sekitar 1 persen dan menuju penurunan mingguan terbesar sejak Mei.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan cukup besar dari tingginya yield obligasi AS, dolar yang kuat, harga minyak, arus modal, dan kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal.
9. Tiga Skenario Rupiah Sepekan ke Depan
Berdasarkan proyeksi pasar yang tersedia, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.800–Rp18.100 per dolar AS sepanjang pekan ini.
Skenario pertama adalah rupiah menguat menuju area Rp17.800–Rp17.900 apabila dolar AS dan yield Treasury melemah, harga minyak turun, serta arus modal asing kembali masuk.
Skenario kedua adalah rupiah bergerak di sekitar Rp17.900–Rp18.000 apabila sentimen global dan domestik relatif berimbang.
Skenario ketiga adalah rupiah melemah menuju Rp18.000–Rp18.100 apabila dolar kembali menguat, yield AS meningkat, harga minyak tetap tinggi, atau terjadi tekanan arus modal keluar.
Ketiga skenario tersebut bukan kepastian nilai tukar, melainkan gambaran berdasarkan kisaran proyeksi pasar dan faktor yang sedang memengaruhi rupiah.
10. Perdagangan Awal Oktober Jadi Perhatian
Pergerakan rupiah hingga awal Oktober akan sangat ditentukan perkembangan pasar global.
Data ekonomi AS, arah suku bunga The Fed, harga minyak, ketegangan geopolitik, arus modal asing, dan kebijakan stabilisasi Bank Indonesia menjadi enam faktor utama yang perlu diperhatikan.
DBS sebelumnya memperkirakan rupiah berada pada kisaran Rp17.600–Rp18.000 per dolar AS sepanjang 2026.
Namun, posisi rupiah pada akhir September telah berada sangat dekat dengan batas atas proyeksi tersebut dan bahkan sempat bergerak melewati Rp18.000 dalam perdagangan intraday tahun ini.
Dengan kondisi tersebut, level Rp18.000 masih rawan kembali diuji dalam sepekan ke depan.
Arah selanjutnya akan bergantung pada apakah tekanan global semakin kuat atau langkah stabilisasi domestik serta perbaikan sentimen mampu membawa rupiah kembali menjauh dari level tersebut.