JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dan semakin mendekati level Rp18.000.
Pada penutupan perdagangan Senin, 28 September 2026, rupiah berada di posisi Rp17.978 per dolar AS, melemah 75 poin atau 0,42 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.903 per dolar AS.
Pelemahan juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berada di Rp17.965 per dolar AS, dibandingkan Rp17.917 pada perdagangan sebelumnya.
1. Rupiah Melemah Sejak Pembukaan
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan Senin.
Rupiah dibuka melemah 45 poin atau sekitar 0,25 persen ke Rp17.948 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.903.
Tekanan berlanjut sepanjang perdagangan hingga rupiah ditutup di Rp17.978 per dolar AS.
Posisi tersebut membuat rupiah kembali berada sangat dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
2. Data Ekonomi AS Ikut Tekan Rupiah
Salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah berasal dari Amerika Serikat.
Data pesanan barang tahan lama AS pada Agustus tercatat tidak berubah atau 0 persen, lebih baik dibandingkan perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan 0,4 persen.
Pesanan baru barang tahan lama AS tercatat sekitar 338,6 miliar dolar AS.
Data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Kondisi tersebut dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
3. Imbal Hasil Obligasi AS dan Minyak Naik
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun berada di sekitar 5,2 persen, sementara tenor 30 tahun mencapai sekitar 5,52 persen.
Kenaikan imbal hasil dapat meningkatkan daya tarik aset dolar AS dan mendorong investor memindahkan dana dari pasar negara berkembang.
Pada saat yang sama, harga minyak mentah dunia masih berada pada level tinggi.
Harga West Texas Intermediate berada di kisaran 94,15 dolar AS per barel, sedangkan Brent sekitar 103,2 dolar AS per barel dalam perdagangan Senin.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian bagi Indonesia karena dapat memengaruhi kebutuhan valuta asing untuk impor energi serta tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal.
4. Pasar Cermati Arah Suku Bunga The Fed
Pelaku pasar juga meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga.
Berdasarkan CME FedWatch yang dikutip dalam analisis pasar Senin, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober diperkirakan sekitar 70 persen.
Ekspektasi tersebut meningkat setelah data ekonomi AS tetap kuat dan sejumlah pejabat The Fed memberikan sinyal kebijakan yang cenderung ketat.
Jika suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama, tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat berlanjut.
5. Ketegangan AS-Iran Tambah Ketidakpastian
Perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi perhatian pasar.
Ketegangan kedua negara meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi dan mendorong harga minyak tetap tinggi.
Dolar AS juga memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian geopolitik meningkat.
Kombinasi antara harga minyak tinggi, imbal hasil obligasi AS, dan ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi menjadi tekanan tambahan bagi rupiah.
6. Rupiah Turun Sekitar 7 Persen Sepanjang 2026
Reuters mencatat rupiah telah melemah sekitar 7 persen sepanjang 2026 dan menjadi salah satu mata uang negara berkembang Asia dengan kinerja terlemah.
Tekanan tidak hanya berasal dari faktor global.
Pasar juga mencermati risiko fiskal Indonesia, arus modal asing, serta kebutuhan pemerintah menjaga stabilitas ekonomi ketika harga energi dunia berada pada level tinggi.
Pada pekan sebelumnya, rupiah juga mengalami pelemahan hampir 1 persen dalam sepekan dan sempat berada di sekitar Rp17.935 per dolar AS.
7. Bank Indonesia Kurangi Intervensi di Pasar Spot
Bank Indonesia tetap melakukan langkah stabilisasi nilai tukar, tetapi mengubah komposisi instrumen yang digunakan.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa porsi intervensi valuta asing melalui pasar spot telah dikurangi menjadi sekitar 30 persen dari total intervensi karena dinilai memiliki biaya tinggi.
Bank Indonesia lebih banyak memanfaatkan instrumen pasar lainnya, termasuk transaksi non-deliverable forward atau NDF.
BI juga menilai peningkatan investasi sektor riil diperlukan untuk membantu memperkuat stabilitas rupiah dalam jangka lebih panjang.
8. Level Rp18 Ribu Kembali Jadi Perhatian
Dengan penutupan Rp17.978 per dolar AS, jarak rupiah menuju Rp18.000 tinggal relatif tipis.
Pergerakan berikutnya akan banyak dipengaruhi oleh arah dolar AS, harga minyak, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, data ekonomi AS, arus modal asing, serta respons kebijakan Bank Indonesia.
Rupiah sempat berada pada rentang Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS dalam proyeksi perdagangan awal pekan.
Karena pasar valuta asing bergerak sepanjang waktu, posisi rupiah pada perdagangan berikutnya dapat berubah cepat mengikuti perkembangan global maupun domestik.
Pelaku pasar kini akan mencermati perdagangan Selasa, 29 September 2026 untuk melihat apakah rupiah mampu menjauh kembali dari level Rp18.000 atau justru kembali menghadapi tekanan.