Belanja online telah membuat banyak kebutuhan menjadi lebih mudah diperoleh. Dari rumah, seseorang dapat mencari barang, membandingkan pilihan, membayar, lalu menunggu paket datang.
Kemudahan tersebut memberikan banyak manfaat. Namun ada satu kebiasaan sederhana yang penting dijaga: jangan sampai mudahnya membeli sesuatu membuat kita semakin jarang memikirkan kebutuhan orang lain di rumah.
Persoalannya tidak selalu tentang berapa banyak uang yang dikeluarkan. Dalam keluarga, keputusan kecil juga dapat menyentuh perasaan orang lain.
1. Barang Murah Tetap Perlu Dipikirkan
Harga murah sering membuat seseorang merasa tidak perlu berpikir panjang.
Barang Rp20.000, Rp30.000 atau Rp50.000 terlihat tidak terlalu berarti. Apalagi ketika ada diskon, gratis ongkir atau penawaran yang hanya berlaku beberapa jam.
Namun sebelum menekan tombol beli, ada pertanyaan sederhana yang dapat dibiasakan:
“Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”
Kemudian tambahkan satu pertanyaan lagi:
“Apakah ada kebutuhan orang di rumah yang lebih penting?”
Pertanyaan kedua inilah yang sering terlupakan.
2. Keluarga Bukan Hanya Suami dan Istri
Kebiasaan saling mempertimbangkan tidak hanya berlaku antara pasangan.
Anak perlu belajar mempertimbangkan keadaan orang tua.
Orang tua perlu memperhatikan kebutuhan anak.
Kakak perlu memahami keadaan adik, dan adik juga perlu menghargai keadaan kakaknya.
Dalam satu rumah, setiap orang dapat memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda.
Masalah dapat muncul ketika seseorang terus memenuhi keinginannya sendiri sementara kebutuhan anggota keluarga lainnya seperti tidak terlihat.
3. Anak Tidak Harus Mendapatkan Semua yang Dilihatnya
Anak sekarang dapat melihat begitu banyak barang melalui ponsel. Mainan, pakaian, perlengkapan sekolah, permainan, aksesori, hingga berbagai barang yang sebelumnya mungkin tidak pernah diketahuinya.
Ketika harganya terlihat murah, keinginan untuk memilikinya semakin mudah muncul.
Orang tua tidak harus memenuhi setiap permintaan tersebut.
Mengatakan “belum” bukan berarti tidak menyayangi anak.
Anak justru dapat diajak memahami bahwa di dalam keluarga terdapat kebutuhan yang harus didahulukan. Ada makanan, sekolah, kesehatan, kebutuhan rumah, serta kebutuhan anggota keluarga lainnya.
Penjelasan sederhana seperti ini dapat membantu anak belajar bahwa tidak semua yang diinginkan harus langsung dimiliki.
4. Orang Tua Juga Perlu Memberikan Contoh
Sulit mengajarkan anak menahan keinginan apabila orang dewasa di rumah sendiri terbiasa membeli sesuatu hanya karena sedang murah.
Anak belajar bukan hanya dari nasihat.
Mereka juga memperhatikan kebiasaan orang di sekitarnya.
Ketika orang tua dapat mengatakan, “Barang ini bagus, tetapi kita belum membutuhkannya,” anak melihat langsung bahwa tidak membeli sesuatu juga merupakan sebuah keputusan.
Kebiasaan seperti itu mungkin terlihat kecil, tetapi dapat menjadi pelajaran yang dibawa anak hingga dewasa.
5. Kakak dan Adik Juga Perlu Saling Memahami
Hubungan kakak dan adik terkadang ikut dipengaruhi oleh barang.
Salah satu mendapatkan sesuatu, yang lain merasa harus mendapatkannya juga.
Salah satu sering membeli barang, yang lain mulai merasa diperlakukan berbeda.
Perasaan seperti ini sebaiknya tidak langsung dianggap sepele.
Tidak semua kebutuhan kakak dan adik harus sama. Usia, sekolah, pekerjaan dan keadaan masing-masing dapat berbeda.
Yang lebih penting adalah adanya penjelasan dan rasa saling menghargai.
Kakak yang sudah bekerja juga tidak harus memenuhi setiap permintaan adiknya. Sebaliknya, adik perlu memahami bahwa penghasilan kakaknya bukan berarti semua keinginannya harus dipenuhi.
6. Jangan Biarkan Paket Menjadi Sumber Pertengkaran
Masalah terkadang bukan muncul karena harga barangnya mahal.
Masalah muncul karena barang dibeli tanpa mempertimbangkan keadaan keluarga.
Seseorang mungkin merasa:
“Kenapa barang itu dibeli, sementara kebutuhan saya belum dipenuhi?”
Atau:
“Kenapa setiap minggu ada paket, tetapi ketika saya membutuhkan sesuatu selalu dikatakan nanti?”
Jika perasaan seperti ini terus terkumpul, persoalan kecil dapat berubah menjadi rasa kecewa.
Karena itu, pembelian tertentu yang dapat memengaruhi kebutuhan bersama sebaiknya dibicarakan.
Bukan berarti setiap barang harus melalui rapat keluarga. Yang dibutuhkan adalah kebiasaan untuk saling mempertimbangkan.
7. Tidak Membeli Juga Bisa Menjadi Bentuk Kepedulian
Ada kalanya seseorang sebenarnya mampu membeli sebuah barang.
Tetapi setelah melihat keadaan rumah, ia memilih menundanya karena ada kebutuhan orang lain yang lebih penting.
Keputusan seperti ini jarang terlihat.
Tidak ada paket yang datang. Tidak ada barang baru yang dipamerkan. Tidak ada pemberitahuan transaksi berhasil.
Namun justru di situlah terdapat bentuk kepedulian yang sederhana.
Seseorang memilih tidak mendahulukan dirinya sendiri.
8. Biasakan Menunggu Sebelum Menekan Tombol Beli
Untuk barang yang bukan kebutuhan mendesak, kita dapat membiasakan diri tidak langsung membelinya.
Masukkan ke keranjang atau simpan terlebih dahulu.
Tunggu sampai besok.
Setelah satu hari, lihat kembali barang tersebut dan tanyakan:
“Masih perlu atau kemarin hanya tertarik karena sedang murah?”
Sering kali keinginan yang terasa kuat pada malam hari sudah tidak begitu penting keesokan harinya.
Jeda sederhana ini juga memberi waktu untuk mengingat kebutuhan keluarga sebelum membuat keputusan.
9. Harga Murah Tidak Selalu Berarti Harus Dibeli
Diskon memang dapat membantu ketika barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Namun diskon tidak otomatis membuat sebuah pembelian menjadi perlu.
Barang yang tidak dibutuhkan tetap merupakan barang yang tidak dibutuhkan meskipun harganya turun.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Berapa murah barang ini?”
Cobalah bertanya:
“Untuk apa barang ini setelah sampai di rumah?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menyelamatkan banyak barang dari nasib klasik: datang dengan penuh kegembiraan, dipakai dua kali, lalu menghabiskan sisa hidupnya di dalam lemari.
10. Kebutuhan Keluarga Sebaiknya Terlihat oleh Semua
Keharmonisan lebih mudah dijaga ketika anggota keluarga mengetahui apa yang sedang dibutuhkan bersama.
Tidak harus membuat perhitungan yang rumit.
Keluarga dapat membiasakan berbicara tentang kebutuhan rumah, sekolah, kesehatan, orang tua, anak, kakak maupun adik.
Dengan begitu, seseorang tidak hanya mengetahui apa yang sedang ia inginkan, tetapi juga mengetahui apa yang sedang dibutuhkan orang-orang terdekatnya.
Dari sinilah rasa saling memahami tumbuh.
11. Jangan Mengukur Kasih Sayang dari Barang
Anak yang tidak dibelikan sesuatu bukan berarti kurang disayangi.
Orang tua yang tidak mendapatkan hadiah bukan berarti dilupakan.
Adik yang permintaannya tidak dipenuhi kakaknya bukan berarti tidak diperhatikan.
Begitu pula kasih sayang orang tua kepada anak tidak harus selalu ditunjukkan dengan membeli barang.
Perhatian, waktu, percakapan, bantuan ketika kesulitan dan kesediaan mendengarkan sering kali mempunyai nilai yang jauh lebih lama daripada sebuah paket.
12. Sebelum Membeli, Ingat Siapa yang Ada di Rumah
Belanja online bukan musuh keluarga. Teknologi justru telah membantu masyarakat memperoleh berbagai kebutuhan dengan lebih mudah.
Yang perlu dijaga adalah kebiasaan manusianya.
Jangan sampai kemudahan membeli membuat kita semakin mudah memenuhi keinginan sendiri tetapi semakin sulit melihat kebutuhan orang yang tinggal bersama kita.
Keharmonisan keluarga tidak hanya dibangun ketika menghadapi persoalan besar.
Ia juga tumbuh dari keputusan-keputusan kecil setiap hari: anak yang mau memahami keadaan orang tua, orang tua yang mendengarkan kebutuhan anak, kakak yang memperhatikan adik, adik yang menghargai kakak, dan setiap anggota keluarga yang tidak selalu menempatkan keinginannya sendiri paling depan.
Tidak semua barang murah harus dibeli.
Kadang keputusan yang jauh lebih berharga adalah menutup aplikasi, meletakkan ponsel, lalu melihat orang-orang yang ada di rumah dan bertanya dalam hati:
“Apakah ada kebutuhan mereka yang seharusnya saya dahulukan?”