PALU – Puluhan triliun rupiah investasi masuk ke Sulawesi Tengah, terutama melalui industri pengolahan dan hilirisasi mineral. Angka sebesar itu wajar menimbulkan pertanyaan sederhana di tengah masyarakat: apa yang sebenarnya dapat dirasakan warga dari investasi tersebut?
Pertanyaan itu penting karena nilai investasi bukanlah uang yang kemudian dibagikan langsung kepada penduduk daerah.
Investasi digunakan untuk membangun dan menjalankan kegiatan usaha, membeli mesin dan peralatan, membangun fasilitas, membayar tenaga kerja, membeli barang dan jasa, serta membiayai berbagai kebutuhan operasional perusahaan.
Manfaat bagi masyarakat muncul ketika aktivitas ekonomi tersebut terhubung dengan pekerja, UMKM, pemasok, petani, nelayan, penyedia jasa, serta masyarakat sekitar.
Karena itu, memahami jalur manfaat investasi menjadi penting agar masyarakat tidak hanya melihat angka triliunan rupiah dari kejauhan.
1. Apa Hak Masyarakat ketika Investasi Masuk ke Daerah?
Tidak ada ketentuan yang membuat setiap warga otomatis memperoleh bagian uang dari suatu investasi hanya karena perusahaan beroperasi di Sulawesi Tengah.
Namun, masyarakat tetap memiliki hak yang dilindungi peraturan perundang-undangan, sementara perusahaan penanaman modal juga mempunyai sejumlah kewajiban.
Undang-Undang Penanaman Modal antara lain mewajibkan penanam modal melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan, menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha, serta mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.
Tanggung jawab sosial perusahaan dimaksudkan untuk menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, serta budaya masyarakat setempat.
Dalam kegiatan pertambangan mineral dan batu bara terdapat pula program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat atau PPM.
Program tersebut mencakup sejumlah bidang seperti pendidikan, kesehatan, peningkatan pendapatan atau pekerjaan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan, penguatan kelembagaan masyarakat, serta pembangunan infrastruktur penunjang.
Artinya, masyarakat sekitar kegiatan investasi bukan sekadar penonton. Ada mekanisme pembangunan dan pemberdayaan yang memang ditujukan agar kegiatan ekonomi juga menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi di sekitarnya.
2. Dampak Paling Langsung: Kesempatan Kerja
Dampak yang paling mudah terlihat dari investasi adalah terbukanya pekerjaan.
Perusahaan membutuhkan pekerja untuk kegiatan produksi, konstruksi, administrasi, mekanik, kelistrikan, keselamatan kerja, laboratorium, transportasi, pergudangan, logistik, katering, keamanan, hingga berbagai pekerjaan pendukung lainnya.
Tetapi masyarakat perlu memahami bahwa kesempatan kerja tidak selalu berarti seluruh posisi otomatis diberikan kepada warga sekitar.
Persaingan tetap bergantung pada persyaratan pekerjaan, keterampilan, pendidikan, sertifikasi, pengalaman, dan ketentuan ketenagakerjaan.
Karena itu, manfaat investasi akan semakin besar apabila masyarakat lokal memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Di sinilah pelatihan kerja, pendidikan vokasi dan sertifikasi menjadi penting.
Jangan hanya bertanya apakah perusahaan sedang membuka lowongan. Pertanyaan berikutnya adalah keterampilan apa yang paling banyak dibutuhkan perusahaan dalam beberapa tahun ke depan dan bagaimana masyarakat Sulawesi Tengah dapat mempersiapkannya.
3. Peluang Tidak Hanya Menjadi Karyawan
Investasi juga menciptakan permintaan barang dan jasa dalam jumlah besar.
Perusahaan membutuhkan makanan, air, transportasi, akomodasi, pakaian kerja, material, perawatan kendaraan dan mesin, jasa konstruksi, kebersihan, pergudangan, hasil pertanian, perikanan, hingga berbagai kebutuhan operasional.
Artinya, masyarakat tidak harus seluruhnya masuk melalui gerbang perusahaan sebagai pekerja.
Sebagian justru dapat masuk melalui rantai pasok.
Seorang petani dapat memperoleh manfaat apabila hasil produksinya masuk ke jaringan pemasok makanan.
Nelayan dapat memperoleh pasar yang lebih besar jika hasil tangkapannya memenuhi standar dan memiliki rantai dingin yang memadai.
Pengusaha transportasi, bengkel, katering, kontraktor lokal, penyedia penginapan hingga berbagai UMKM dapat memperoleh pasar baru apabila mampu memenuhi kebutuhan industri.
Di sinilah investasi dapat menciptakan efek ekonomi yang jauh lebih luas daripada jumlah pekerja yang berada di dalam kawasan industri.
4. UMKM Daerah Memiliki Jalur Kemitraan dengan Usaha Besar
Pemerintah telah mengatur mekanisme kemitraan antara usaha besar dengan UMKM di daerah.
Peraturan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Nomor 3 Tahun 2025 memperkuat tata cara kemitraan tersebut dengan tujuan meningkatkan realisasi dan pemerataan kemitraan serta mengoptimalkan manfaat bagi masyarakat setempat.
Melalui sistem OSS, pelaku UMKM dapat memperoleh NIB, melihat peluang kemitraan yang ditawarkan usaha besar, hingga memproses Kesepakatan Kemitraan Usaha.
Jalur ini penting diketahui masyarakat Sulawesi Tengah.
UMKM tidak harus menunggu perusahaan datang menawarkan kerja sama.
Pelaku usaha dapat lebih dahulu memperbaiki legalitas, kapasitas produksi, kualitas produk, pencatatan usaha dan standar yang diperlukan agar memiliki posisi lebih baik ketika peluang kemitraan tersedia.
5. Apa yang Harus Dilakukan Pelaku UMKM?
Langkah pertama adalah membuat usaha terlihat dan dapat dipercaya.
Usaha yang ingin masuk ke rantai pasok perusahaan sebaiknya memiliki legalitas yang diperlukan, termasuk NIB sesuai kegiatan usahanya.
Setelah itu, pelaku usaha perlu mengetahui secara spesifik kebutuhan pasar.
Jangan memproduksi sesuatu dalam jumlah besar hanya karena kawasan industri berada di dekatnya. Cari tahu terlebih dahulu barang atau jasa apa yang benar-benar dibutuhkan, volumenya, standar kualitasnya, cara pembayaran, kontinuitas pasokan, dan persyaratan menjadi pemasok.
Pelaku UMKM juga perlu mulai memperbaiki pencatatan keuangan.
Perusahaan besar membutuhkan pemasok yang mampu memberikan kepastian harga, jumlah, kualitas dan waktu pengiriman. Karena itu, kemampuan mengelola usaha sama pentingnya dengan kemampuan membuat produk.
6. Petani dan Nelayan Juga Bisa Mendapat Dampak Ekonomi
Pertumbuhan kawasan industri meningkatkan jumlah pekerja dan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut pada dasarnya juga meningkatkan kebutuhan konsumsi.
Ini merupakan peluang bagi pertanian dan perikanan Sulawesi Tengah.
Tetapi peluang tersebut baru menjadi pendapatan lokal apabila produk daerah benar-benar mampu masuk ke pasar yang tercipta.
Masalahnya dapat berupa kontinuitas produksi, distribusi, kualitas, penyimpanan, rantai dingin, hingga posisi tawar petani dan nelayan.
Karena itu, koperasi, kelompok usaha, pemerintah daerah dan pelaku distribusi memiliki peran penting untuk menghubungkan produksi masyarakat dengan konsumen besar.
Jangan sampai kebutuhan pangan kawasan industri terus meningkat sementara sebagian besar barang justru didatangkan dari luar daerah karena produksi lokal tidak terhubung dengan pasarnya.
7. Masyarakat Sekitar Tambang Perlu Memahami Program PPM
Khusus pada kegiatan pertambangan mineral dan batu bara, masyarakat perlu mengenal Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat atau PPM.
Program ini lebih luas daripada bantuan sesaat.
Cakupannya meliputi pendidikan, kesehatan, peningkatan pendapatan dan pekerjaan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, lingkungan, kelembagaan masyarakat dan infrastruktur.
Karena itu, masyarakat dapat mendorong agar program pemberdayaan diarahkan pada kebutuhan yang menghasilkan kemampuan jangka panjang.
Pelatihan yang berujung keterampilan, bantuan usaha yang memiliki pasar, beasiswa yang meningkatkan kompetensi, penguatan kelompok usaha dan pembangunan fasilitas produktif akan mempunyai dampak berbeda dibandingkan program yang manfaatnya hanya berlangsung sementara.
Masyarakat juga perlu mengetahui program apa yang direncanakan, siapa sasarannya, dan apa hasil yang ingin dicapai.
8. Dampak Investasi Juga Bisa Tidak Menyenangkan
Investasi tidak hanya menghasilkan peluang.
Pertumbuhan kawasan industri dapat meningkatkan kebutuhan rumah dan tempat tinggal, lalu lintas kendaraan, tekanan terhadap infrastruktur, kebutuhan air, harga tanah, serta permintaan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Di wilayah tertentu, peningkatan permintaan dapat mendorong harga barang dan jasa.
Kegiatan industri juga dapat membawa risiko lingkungan apabila pengelolaannya tidak sesuai ketentuan.
Karena itu, manfaat investasi tidak boleh dihitung hanya dari jumlah pekerjaan dan nilai investasi.
Kualitas lingkungan, keselamatan, kondisi sosial masyarakat, akses terhadap sumber daya, serta perubahan biaya hidup juga perlu diperhatikan.
Masyarakat mempunyai kepentingan untuk memperoleh informasi dan menggunakan mekanisme pengaduan serta partisipasi yang tersedia apabila menemukan persoalan yang berkaitan dengan kegiatan usaha dan lingkungan.
9. Jangan Menunggu Manfaat Investasi Datang Sendiri
Besarnya investasi tidak menjamin setiap keluarga di Sulawesi Tengah otomatis menjadi lebih sejahtera.
Ada jarak antara investasi masuk dan pendapatan masyarakat.
Jarak itulah yang harus diisi dengan keterampilan tenaga kerja, UMKM yang kuat, petani dan nelayan yang terhubung dengan pasar, koperasi yang sehat, pendidikan yang sesuai kebutuhan industri, serta pemerintah daerah yang aktif mempertemukan masyarakat dengan peluang ekonomi.
Bagi pencari kerja, persiapkan keterampilan dan sertifikasi yang memang dibutuhkan pasar.
Bagi UMKM, benahi legalitas, kualitas, kapasitas dan pencatatan usaha lalu cari peluang kemitraan.
Bagi petani dan nelayan, kekuatan dapat dibangun melalui kelompok atau koperasi agar produksi lebih stabil dan posisi tawar meningkat.
Bagi masyarakat sekitar industri dan pertambangan, pahami program pemberdayaan serta dorong program yang menghasilkan manfaat jangka panjang.
Dan bagi masyarakat secara umum, jangan hanya melihat investasi dari angka triliunan rupiah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa banyak pekerjaan berkualitas yang tercipta, berapa banyak usaha lokal menjadi pemasok, berapa banyak produk Sulteng terserap, serta apakah kualitas kehidupan masyarakat di sekitar investasi ikut meningkat.
Investasi besar merupakan peluang.
Tetapi peluang baru menjadi kesejahteraan ketika masyarakat memiliki kemampuan dan akses untuk masuk ke dalam kegiatan ekonomi yang tercipta.
Sulawesi Tengah tidak cukup hanya menjadi tempat investasi berlangsung. Masyarakatnya perlu semakin mampu menjadi pekerja terampil, pemasok, pengusaha, produsen, dan pelaku utama dalam ekonomi yang tumbuh di daerahnya sendiri.