PALU – "Saya tidak punya keahlian."
Kalimat seperti ini mudah diucapkan ketika melihat orang lain mempunyai pekerjaan atau kemampuan yang terlihat khusus.
Ada yang pandai memperbaiki kendaraan. Ada yang bisa membuat kue. Ada yang menguasai komputer. Ada pula yang mempunyai pendidikan dan sertifikat tertentu.
Sementara kita merasa tidak mempunyai apa-apa.
Padahal, kemampuan tidak selalu berbentuk sesuatu yang rumit.
Ada orang yang bisa memasak dengan baik, memperbaiki barang di rumah, merawat tanaman, mengendarai kendaraan, menjahit, menjaga anak, memotong rambut, membuat makanan, menggunakan telepon genggam, berbicara dengan pelanggan atau mengatur barang dengan rapi.
Karena dilakukan hampir setiap hari, kemampuan tersebut sering dianggap biasa.
Padahal sesuatu yang terasa biasa bagi kita belum tentu bisa dilakukan orang lain.
1. Mulai dari Pertanyaan: Apa yang Bisa Saya Kerjakan?
Tidak perlu langsung bertanya, "Usaha apa yang bisa membuat saya berhasil?"
Mulailah dengan pertanyaan yang lebih sederhana:
"Apa yang sudah bisa saya kerjakan sekarang?"
Ambil kertas dan tuliskan.
Tidak perlu malu jika jawabannya terlihat sederhana.
Misalnya:
Bisa memasak.
Bisa mengendarai sepeda motor atau mobil.
Bisa memperbaiki peralatan rumah.
Bisa menggunakan komputer.
Bisa membuat kue.
Bisa menjahit.
Bisa merawat tanaman.
Bisa memotong rambut.
Bisa mengambil foto dengan baik.
Bisa membersihkan dan merapikan rumah.
Bisa mengajar anak.
Bisa memperbaiki telepon genggam.
Bisa berjualan.
Bisa membuat kerajinan.
Bisa mengurus pekerjaan administrasi sederhana.
Daftar setiap orang tentu berbeda.
Tujuannya bukan langsung menjadikan semuanya sebagai usaha, tetapi mengetahui kemampuan yang sebenarnya sudah ada.
2. Perhatikan Hal yang Sering Diminta Orang Lain
Ada cara sederhana lainnya untuk mengenali kemampuan.
Perhatikan apa yang sering diminta orang lain kepada kita.
Apakah tetangga sering meminta bantuan memperbaiki sesuatu?
Apakah keluarga sering meminta dibuatkan makanan?
Apakah teman meminta bantuan mengurus komputer atau telepon genggam?
Apakah orang lain sering meminta kita mengantar barang?
Apakah kita sering diminta membantu membuat surat, mengetik atau mengisi sesuatu?
Jika orang berulang kali meminta bantuan yang sama, mungkin ada kemampuan yang kita anggap biasa tetapi dianggap berguna oleh orang lain.
Belum tentu langsung bisa dijual.
Namun, itu adalah petunjuk yang layak diperhatikan.
3. Pekerjaan Sehari-hari Juga Menghasilkan Kemampuan
Seseorang yang bertahun-tahun bekerja di warung mungkin merasa dirinya "cuma menjaga warung".
Padahal selama itu ia mungkin sudah belajar melayani pembeli, menghitung uang, mengatur stok, mengenali barang yang cepat laku dan berhubungan dengan pemasok.
Orang yang membantu pekerjaan kebun mungkin memahami tanaman, pupuk, waktu tanam dan kondisi tanah.
Orang yang sering membantu usaha keluarga mungkin sudah terbiasa menerima pesanan, membungkus barang atau mengantarkan produk.
Pengalaman seperti itu adalah kemampuan.
Kita sering tidak menyadarinya karena mendapatkannya dari pekerjaan sehari-hari, bukan dari ruang kelas.
4. Tidak Harus Menjadi Ahli untuk Mulai Belajar Lebih Serius
Mengetahui sedikit tentang sesuatu bukan berarti kita sudah siap menjual jasa.
Tetapi itu bisa menjadi titik awal.
Misalnya seseorang sudah bisa membuat kue untuk keluarga.
Ia belum tentu siap menerima pesanan 100 kotak.
Namun, ia bisa belajar membuat hasil yang lebih konsisten, menghitung biaya, memperbaiki kemasan dan mencoba menerima pesanan kecil.
Seseorang yang bisa memperbaiki kerusakan ringan pada sepeda motor juga belum tentu langsung siap membuka bengkel.
Ia masih bisa memperdalam keterampilan terlebih dahulu.
Jadi, jangan melompat terlalu jauh.
Lihat kemampuan yang ada, kemudian tingkatkan sedikit demi sedikit.
5. Kemampuan Bisa Datang dari Hobi
Hal yang dilakukan karena senang juga patut diperhatikan.
Ada orang yang senang memotret.
Ada yang suka memasak.
Ada yang senang merawat tanaman.
Ada yang suka membuat kerajinan.
Ada yang senang memperbaiki barang rusak.
Ada yang suka membuat desain sederhana menggunakan telepon genggam.
Hobi tidak harus dijadikan usaha.
Kadang hobi memang lebih menyenangkan jika tetap menjadi hobi.
Namun, jika kemampuan tersebut dibutuhkan orang lain dan kita memang tertarik mengembangkannya, di sana mungkin terdapat peluang.
6. Lihat Apakah Kemampuan Itu Dibutuhkan Orang
Mempunyai kemampuan saja belum cukup untuk menghasilkan uang.
Harus ada orang yang membutuhkan hasilnya.
Misalnya kita bisa membuat suatu produk dengan sangat baik.
Pertanyaan berikutnya adalah: apakah ada orang yang ingin membelinya?
Kita bisa memperbaiki sesuatu.
Apakah orang di sekitar membutuhkan jasa tersebut?
Kita bisa mengajar.
Apakah ada orang yang membutuhkan pelajaran yang kita kuasai?
Karena itu, sebelum mengeluarkan modal besar, lihat kebutuhan di sekitar.
Tanyakan kepada orang.
Perhatikan apa yang sering dicari.
Mulai dari lingkungan terdekat.
Kadang peluang tidak muncul dari menemukan sesuatu yang belum pernah ada, tetapi dari membantu menyelesaikan masalah sederhana yang dialami orang lain.
7. Coba dari Skala Kecil
Jika sudah menemukan kemampuan yang mungkin dibutuhkan orang, tidak perlu langsung membuka usaha besar.
Coba dahulu.
Orang yang pandai membuat makanan bisa menerima beberapa pesanan.
Orang yang mampu melakukan pekerjaan tertentu bisa mencoba satu atau dua pelanggan.
Orang yang membuat kerajinan bisa menawarkan beberapa produk.
Dari percobaan kecil itu kita mendapatkan jawaban nyata.
Apakah orang menyukai hasilnya?
Apakah mereka mau membayar?
Berapa lama pekerjaan tersebut selesai?
Berapa biaya yang dikeluarkan?
Apakah kita sanggup melakukannya berulang kali?
Jawaban seperti itu lebih berguna daripada terlalu lama membayangkan sebuah usaha yang belum pernah dicoba.
8. Jangan Meremehkan Kemampuan Sederhana
Kita mudah menganggap kemampuan orang lain lebih hebat daripada kemampuan sendiri.
Terutama sekarang, ketika setiap hari kita dapat melihat keberhasilan orang lain melalui media sosial.
Yang terlihat biasanya hasil akhirnya.
Kita tidak selalu melihat berapa lama mereka belajar, berapa kali gagal atau bagaimana keadaan mereka ketika baru memulai.
Karena itu, jangan terburu-buru mengatakan tidak mempunyai kemampuan hanya karena belum menjadi ahli.
Kemampuan sederhana yang terus dilatih dapat menjadi keterampilan yang semakin bernilai.
9. Kalau Belum Menemukan Kemampuan, Kita Masih Bisa Belajar
Tidak menemukan kemampuan yang bisa dikembangkan bukan berarti semuanya selesai.
Kita bisa memilih satu hal untuk dipelajari.
Tidak harus langsung sesuatu yang rumit atau mahal.
Pilih berdasarkan keadaan dan kebutuhan di sekitar.
Kemudian belajar secara bertahap.
Hari ini memahami dasarnya.
Besok mencoba.
Kemudian mengulanginya.
Lalu memperbaiki kesalahan.
Kemampuan tidak muncul dalam satu malam.
Sebagian besar dibangun dari sesuatu yang dilakukan berkali-kali sampai kita menjadi lebih baik daripada ketika pertama kali mencobanya.
10. Jangan Terlalu Cepat Mengatakan "Saya Tidak Bisa"
Sebelum mengatakan tidak mempunyai keahlian, coba lihat kembali kehidupan sehari-hari.
Apa yang sudah kita kerjakan selama bertahun-tahun?
Apa yang bisa kita lakukan sendiri?
Dalam urusan apa orang lain sering meminta bantuan?
Apa yang kita kerjakan lebih mudah dibanding dahulu?
Apa yang sebenarnya ingin kita pelajari lebih jauh?
Jawaban dari pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung menghasilkan pekerjaan atau usaha baru.
Tetapi setidaknya kita mulai mengetahui apa yang sudah dimiliki.
Tidak semua orang memulai dengan modal besar.
Ada yang memulai dengan peralatan sederhana.
Ada yang memulai dari halaman rumah.
Ada yang memulai dari menerima satu pesanan.
Dan ada pula yang memulai hanya dengan menyadari:
"Ternyata ada sesuatu yang saya bisa."
Dari sana, kemampuan tersebut bisa dipelajari lebih dalam, dicoba, diperbaiki dan suatu hari mungkin mempunyai nilai yang sebelumnya tidak pernah kita lihat.