Viral di media sosial sebuah video yang membahas cara mengisi bahan bakar minyak atau BBM agar konsumen disebut tidak mudah dicurangi saat berada di SPBU.
Dalam narasi yang beredar, masyarakat antara lain disarankan tidak membeli BBM dengan nominal bulat seperti Rp50.000 atau Rp100.000. Ada pula anggapan bahwa konsumen sebaiknya meminta petugas menggunakan kecepatan nozzle tertentu agar jumlah BBM yang masuk lebih banyak.
Video seperti ini mudah menarik perhatian.
Alasannya sederhana. Hampir setiap pemilik kendaraan pernah mengisi BBM, sementara konsumen pada akhirnya harus mempercayai angka yang ditampilkan mesin SPBU.
Namun apakah trik yang beredar tersebut benar?
Dan jika kecurangan takaran memang bisa terjadi, apa yang sebenarnya perlu diperhatikan masyarakat?
1. Klaim Nominal Ganjil Banyak Beredar
Salah satu klaim yang paling sering muncul adalah konsumen sebaiknya tidak mengatakan:
“Isi Rp50.000.”
Sebagai gantinya, konsumen disarankan menggunakan nominal ganjil seperti Rp51.300 atau Rp103.700.
Alasannya disebut-sebut karena sistem tertentu dianggap lebih mudah dimanipulasi pada nominal bulat.
Namun berdasarkan penjelasan Pertamina Patra Niaga yang disampaikan dalam pemeriksaan fakta terhadap klaim tersebut, nominal pembelian tidak menentukan banyak atau sedikitnya takaran BBM yang diterima konsumen.
Artinya, membeli Rp50.000 tidak otomatis membuat konsumen lebih mudah dirugikan dibanding membeli Rp51.300.
2. Nozzle Pelan Juga Disebut Lebih Menguntungkan
Klaim lain menyebut konsumen sebaiknya meminta petugas menggunakan kecepatan nozzle paling rendah.
Menurut narasi tersebut, jika BBM dialirkan terlalu cepat akan lebih banyak udara atau uap sehingga jumlah bahan bakar yang benar-benar masuk dianggap lebih sedikit.
Pertamina Patra Niaga juga membantah anggapan bahwa pengaturan kecepatan nozzle seperti itu menentukan takaran BBM yang diterima konsumen.
Dengan kata lain, meminta nozzle diperlambat bukan cara yang dapat dijadikan jaminan untuk mendapatkan takaran lebih banyak.
3. Jadi Semua Cerita tentang Kecurangan SPBU Bohong?
Tidak.
Ini bagian yang penting dibedakan.
Trik nominal ganjil dan nozzle pelan belum memiliki dasar yang menunjukkan bahwa cara tersebut membuat konsumen mendapatkan BBM lebih banyak.
Tetapi kecurangan takaran di SPBU memang pernah terbukti terjadi.
Masalahnya bukan karena konsumen mengatakan angka Rp50.000.
Masalahnya dapat berasal dari alat ukur yang sengaja dimanipulasi.
4. Pemerintah Pernah Menemukan Takaran BBM Dikurangi 3 Persen
Pada Februari 2025, Kementerian Perdagangan bersama Polri dan Pertamina menemukan praktik pengurangan takaran di sebuah SPBU di Sukabumi, Jawa Barat.
Kemendag menyatakan takaran BBM dikurangi sekitar 3 persen.
Modusnya menggunakan rangkaian elektronik tambahan yang terhubung dengan dispenser.
Alat tersebut dapat digunakan untuk memengaruhi takaran BBM yang keluar.
Temuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dan SPBU bersangkutan disegel.
Kasus ini menunjukkan bahwa kecurangan takaran memang bukan sesuatu yang mustahil.
Namun bentuk kecurangannya jauh berbeda dari anggapan bahwa mesin otomatis mengurangi BBM hanya karena konsumen menggunakan nominal bulat.
5. Kasus Lain Ditemukan di Bogor
Pada Maret 2025, Kemendag juga mengungkap pengurangan takaran pada sebuah SPBU di Kabupaten Bogor.
Dalam kasus tersebut, ditemukan perangkat elektronik yang terhubung dengan pompa ukur dan dapat dikendalikan dari lokasi lain menggunakan sistem remote.
Kemendag menyebut rata-rata pengurangan takaran mencapai sekitar 4 persen.
Dalam setiap pembelian 20 liter, kekurangannya disebut dapat mencapai sekitar 750 mililiter.
Ini merupakan contoh nyata mengapa pengawasan alat ukur SPBU tetap penting.
6. Jadi Apa yang Sebenarnya Harus Dilihat Konsumen?
Daripada mengandalkan trik yang belum terbukti, ada beberapa hal sederhana yang lebih berguna dilakukan ketika mengisi BBM.
Sebelum pengisian dimulai, lihat layar dispenser.
Pastikan angka liter dan harga kembali menunjukkan nol.
Perhatikan proses pengisian sampai selesai.
Setelah selesai, lihat kembali jumlah liter dan nominal yang tercantum.
Jika membutuhkan bukti transaksi, mintalah struk.
Kebiasaan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi setidaknya konsumen mengetahui transaksi yang sedang dilakukan.
7. Jangan Hanya Melihat Nominal, Perhatikan Juga Liternya
Sebagian konsumen hanya melihat jumlah uang.
Misalnya:
Rp100.000.
Padahal dispenser juga menunjukkan berapa liter BBM yang diberikan.
Jumlah liter tersebut berguna sebagai pembanding.
Jika kendaraan yang sama, jenis BBM sama, dan kondisi pengisian relatif serupa, konsumen dapat mengetahui kira-kira berapa liter yang biasanya diperoleh.
Ini bukan alat pengujian resmi.
Namun setidaknya konsumen tidak sepenuhnya mengabaikan informasi jumlah BBM yang diterima.
8. Pompa BBM Termasuk Alat Ukur yang Diawasi
Pompa ukur BBM bukan alat yang seharusnya dibiarkan bekerja tanpa pemeriksaan.
Dalam sistem metrologi legal, alat ukur yang digunakan dalam transaksi harus memenuhi ketentuan tera dan tera ulang.
Tujuannya sederhana:
agar jumlah yang dibayar konsumen sesuai dengan jumlah yang diterima.
Kementerian Perdagangan pada 2026 kembali menegaskan pentingnya tera, tera ulang, dan pengawasan alat ukur untuk menjaga transaksi yang adil.
Pelaksanaan metrologi legal juga melibatkan pemerintah daerah melalui Unit Metrologi Legal di kabupaten atau kota.
9. Tanda Tera Punya Arti
Tera merupakan pemeriksaan terhadap alat ukur untuk memastikan alat tersebut memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Tera ulang dilakukan secara berkala.
Pompa ukur BBM termasuk alat yang harus mendapatkan perhatian dalam sistem tersebut.
Jadi ketika masyarakat berbicara tentang bagaimana memastikan takaran BBM benar, persoalan utamanya sebenarnya bukan mencari angka pembelian yang “aman”.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan alat ukur bekerja sesuai ketentuan dan pengawasannya berjalan.
10. Bagaimana Jika Merasa Takaran Tidak Sesuai?
Konsumen tidak harus membuktikan sendiri dengan membongkar mesin dispenser.
Jika merasa ada kejanggalan, catat informasi yang tersedia.
Misalnya:
lokasi SPBU
nomor SPBU jika terlihat
tanggal dan waktu pengisian
jenis BBM
nominal pembelian
jumlah liter
nomor pompa jika dapat diketahui
struk transaksi jika tersedia
Informasi seperti ini jauh lebih membantu ketika membuat laporan dibanding hanya mengatakan:
“Saya merasa bensinnya kurang.”
11. Ada Tempat untuk Mengadu
Pertamina menyediakan layanan pelanggan melalui Pertamina Call Center 135 untuk pengaduan terkait produk dan pelayanan.
Kementerian Perdagangan juga mendorong masyarakat ikut mengawasi alat ukur.
Untuk persoalan metrologi legal, masyarakat dapat menyampaikan pengaduan kepada Direktorat Metrologi atau Unit Metrologi Legal pemerintah daerah.
Kemendag pada 2026 mencantumkan WhatsApp Layanan Pengaduan Direktorat Metrologi di nomor 0811882727.
Artinya, jika masyarakat benar-benar menemukan dugaan masalah takaran, jalan keluarnya bukan hanya menulis keluhan di media sosial.
Ada jalur untuk meminta pemeriksaan.
12. Jangan Langsung Menuduh Petugas SPBU
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah jangan langsung menganggap petugas yang memegang nozzle sebagai pelaku kecurangan hanya karena jumlah BBM terasa berbeda.
Banyak hal dapat memengaruhi seberapa cepat indikator bahan bakar kendaraan berubah.
Posisi kendaraan, bentuk tangki, kondisi indikator, sisa bahan bakar sebelumnya, hingga cara kendaraan digunakan dapat membuat perasaan konsumen berbeda.
Jika ada dugaan masalah, kumpulkan informasi dan laporkan.
Pemeriksaan alat jauh lebih kuat daripada tuduhan berdasarkan perasaan.
13. Video Viral Tetap Bisa Berguna, tetapi Harus Diperiksa
Video yang membahas kemungkinan kecurangan SPBU mempunyai satu sisi positif.
Ia membuat masyarakat lebih memperhatikan haknya sebagai konsumen.
Namun masalah muncul ketika satu klaim langsung dianggap sebagai fakta.
Nominal ganjil terdengar meyakinkan.
Nozzle pelan terdengar masuk akal.
Cerita dari seseorang yang disebut pernah bekerja di SPBU juga dapat terasa lebih dipercaya.
Tetapi kedekatan seseorang dengan suatu pekerjaan tidak otomatis membuat seluruh klaimnya benar.
Informasinya tetap perlu dibandingkan dengan cara kerja alat, aturan, dan hasil pemeriksaan resmi.
14. Mana yang Fakta dan Mana yang Belum Terbukti?
Yang sudah dapat dibedakan adalah:
Klaim bahwa membeli dengan nominal ganjil memberikan takaran lebih aman belum terbukti dan telah dibantah Pertamina Patra Niaga.
Klaim bahwa meminta nozzle diperlambat akan membuat konsumen mendapatkan BBM lebih banyak juga telah dibantah.
Sementara itu, praktik pengurangan takaran BBM memang pernah terbukti terjadi pada sejumlah SPBU melalui manipulasi alat ukur.
Jadi dua hal dapat benar pada saat yang sama:
trik viralnya belum tentu benar, tetapi risiko kecurangan takaran memang nyata.
15. Konsumen Tidak Perlu Menghafal Trik, Cukup Lebih Teliti
Masyarakat tidak perlu datang ke SPBU dengan hafalan angka ganjil atau memberi instruksi teknis kepada petugas setiap kali mengisi BBM.
Lebih sederhana dari itu.
Pastikan meter mulai dari nol.
Perhatikan liter dan nominal.
Simpan bukti transaksi ketika diperlukan.
Dan jika ada sesuatu yang terasa tidak wajar, gunakan saluran pengaduan agar alat tersebut bisa diperiksa.
Karena kalau memang terdapat kecurangan pada mesin, persoalannya bukan apakah kita mengatakan Rp50.000 atau Rp50.327.
Yang dibutuhkan adalah alat ukur yang benar dan pengawasan yang berjalan.
Video viral dapat membuat kita waspada.
Tetapi sebelum mempercayai sebuah “rahasia” yang beredar di internet, lihat dulu faktanya.
Sulteng Easy menghadirkan informasi yang dapat diperiksa.
Pembaca yang menilai.