BENGKULU – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Bengkulu (BEM FH KBM Unib) menggelar aksi simbolik September Hitam di Taman Tabot, Kota Bengkulu, Kamis (17/9/2026).

Aksi yang dimulai sekitar pukul 15.45 WIB tersebut diikuti sekitar 70 orang dengan Muhammad Rizki Achyari sebagai koordinator lapangan.

Dalam kegiatan tersebut, massa menyuarakan sejumlah persoalan terkait hak asasi manusia (HAM) serta konflik agraria dan persoalan yang dihadapi petani.

Massa membawa sejumlah spanduk bertema September Hitam, HAM, serta dukungan terhadap petani. Penyampaian aspirasi dilakukan secara bergantian melalui mimbar bebas.

Dalam tuntutannya, peserta aksi meminta penyelesaian berbagai persoalan pelanggaran HAM yang mereka soroti, baik di tingkat daerah maupun nasional.

Mereka juga menyuarakan keadilan bagi petani dan penyelesaian konflik agraria menjelang peringatan Hari Tani Nasional pada 24 September 2026.

Sekitar pukul 18.20 WIB, perwakilan petani Tanjung Sakti, Kabupaten Mukomuko, turut membacakan pernyataan sikap terkait perkara perdata dengan PT Daria Dharma Pratama (DDP).

Perwakilan petani meminta adanya keadilan terkait kewajiban pembayaran sekitar Rp3 miliar berdasarkan putusan pengadilan dalam perkara tersebut.

Persoalan itu sebelumnya berkaitan dengan gugatan PT Daria Dharma Pratama terhadap tiga petani asal Tanjung Sakti. Perkara tersebut telah melalui proses pengadilan dan para petani sebelumnya juga menyampaikan permohonan kepada Mahkamah Agung agar putusan tersebut dipertimbangkan kembali.

Rangkaian aksi kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan teatrikal sekitar pukul 19.05 WIB.

Sekitar pukul 20.10 WIB, massa menyalakan lilin dan melakukan tabur bunga sebagai bagian dari aksi simbolik September Hitam.

Kegiatan tersebut digunakan peserta untuk mengenang berbagai peristiwa HAM sekaligus menyuarakan tuntutan penyelesaiannya.

Aksi berakhir sekitar pukul 20.45 WIB. Massa kemudian membubarkan diri dengan tertib dan kegiatan berlangsung aman.

Seluruh tuntutan mengenai HAM, konflik agraria, serta perkara petani Tanjung Sakti yang disampaikan dalam kegiatan tersebut merupakan sikap dan aspirasi peserta aksi.