PALU – Kenaikan harga bahan pangan dapat membuat pengeluaran rumah tangga membesar, terutama untuk kebutuhan yang dibeli hampir setiap hari seperti beras, minyak goreng, telur, daging ayam, bawang, cabai, dan gula.

Namun berhemat tidak selalu berarti mengurangi kebutuhan makan secara drastis.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar belanja tetap terkendali ketika harga sejumlah bahan pangan sedang relatif mahal.

Kementerian Perdagangan memiliki Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok atau SP2KP yang digunakan untuk mengumpulkan dan memantau harga serta stok kebutuhan pokok di pasar.

Data harga seperti ini dapat menjadi salah satu pembanding sebelum masyarakat berbelanja.

Berikut 10 cara yang dapat dilakukan ketika harga sembako sedang mahal.

1. Bandingkan harga sebelum membeli

Jangan langsung membeli seluruh kebutuhan di satu tempat hanya karena sudah terbiasa.

Harga barang yang sama dapat berbeda antara pasar, toko, pedagang, maupun wilayah.

Untuk kebutuhan yang dibeli dalam jumlah cukup banyak, selisih Rp1.000 hingga Rp5.000 per kilogram bisa menjadi berarti jika dihitung selama satu bulan.

Bandingkan beberapa tempat yang masih masuk akal dijangkau tanpa membuat biaya transportasi justru lebih besar daripada penghematannya.

Masyarakat juga dapat melihat perkembangan harga kebutuhan pokok melalui SP2KP Kementerian Perdagangan sebagai salah satu referensi.

2. Buat daftar belanja berdasarkan menu

Sebelum pergi ke pasar, tentukan makanan yang akan dibuat untuk beberapa hari ke depan.

Dari rencana tersebut, baru tulis kebutuhan seperti beras, sayur, lauk, bumbu, telur, minyak, dan bahan lainnya.

Cara ini membantu mengurangi pembelian barang yang terlihat menarik di pasar tetapi sebenarnya tidak dibutuhkan.

Daftar belanja juga membuat anggaran lebih mudah diperkirakan sebelum uang dikeluarkan.

3. Dahulukan barang yang benar-benar dibutuhkan

Ketika anggaran terbatas, pisahkan kebutuhan utama dengan barang tambahan.

Beras, lauk, sayur, minyak, dan bahan dasar memasak dapat menjadi prioritas sesuai kebutuhan masing-masing rumah tangga.

Produk yang masih tersedia di rumah tidak perlu dibeli kembali hanya karena sedang berada di pasar.

Periksa stok sebelum berbelanja.

Kebiasaan sederhana tersebut dapat mencegah pembelian barang yang ternyata sudah tersedia.

4. Jangan menimbun karena takut harga naik

Ketika mendengar kabar harga akan naik, sebagian orang mungkin tergoda membeli dalam jumlah jauh lebih banyak dari biasanya.

Cara ini belum tentu menghemat.

Untuk bahan yang cepat rusak seperti cabai, bawang, sayuran, daging ayam, atau produk segar lainnya, membeli terlalu banyak justru berisiko menyebabkan sebagian bahan tidak terpakai.

Kementerian Perdagangan juga pernah mengimbau masyarakat tidak membeli stok berlebihan ketika pasokan kebutuhan pokok tersedia mencukupi.

Belilah sesuai kebutuhan dan kemampuan penyimpanan.

5. Pilih alternatif menu ketika satu bahan terlalu mahal

Jika harga satu bahan sedang melonjak, menu dapat disesuaikan sementara.

Misalnya ketika harga salah satu jenis cabai sangat tinggi, penggunaannya dapat dikurangi atau disesuaikan dengan jenis cabai lain yang cocok untuk masakan.

Jika harga salah satu sumber protein terlalu mahal untuk anggaran keluarga, menu dapat divariasikan menggunakan pilihan lain seperti ayam, ikan, telur, tahu, atau tempe sesuai kebutuhan.

Tujuannya bukan mengganti kandungan setiap bahan secara sama persis, tetapi menjaga menu tetap beragam sambil menyesuaikan pengeluaran.

6. Bandingkan harga berdasarkan berat atau volume

Kemasan kecil sering terlihat lebih murah karena harga yang dibayar saat itu lebih rendah.

Namun belum tentu harga per kilogram atau per liternya lebih hemat.

Misalnya satu produk tersedia dalam kemasan 500 gram dan 1 kilogram.

Hitung berapa harga untuk setiap kilogram sebelum memilih.

Hal yang sama berlaku untuk minyak goreng, gula, beras, telur kemasan, dan berbagai produk lainnya.

Namun membeli kemasan besar hanya masuk akal jika barang tersebut benar-benar akan digunakan dan dapat disimpan dengan baik.

7. Beli lebih banyak hanya untuk bahan yang aman disimpan

Ada perbedaan antara membeli secara hemat dan menimbun.

Bahan seperti beras, gula, atau produk kemasan tertentu relatif lebih mudah disimpan selama tempat penyimpanannya sesuai.

Sementara bahan segar mempunyai umur simpan lebih pendek.

Jika menemukan harga lebih murah untuk barang yang tahan lama dan memang rutin digunakan, membeli sedikit lebih banyak dapat dipertimbangkan.

Tetapi hitung kebutuhan sebenarnya.

Harga grosir tidak menghasilkan penghematan apabila sebagian barang akhirnya rusak atau tidak terpakai.

8. Cari pasar murah atau program pangan pemerintah

Pemerintah pusat maupun daerah dalam kondisi tertentu dapat menggelar pasar murah, Gerakan Pangan Murah, atau kegiatan stabilisasi harga.

Masyarakat dapat memantau informasi dari pemerintah daerah, dinas terkait, Bulog, maupun instansi resmi lainnya.

Kegiatan seperti itu dapat menjadi alternatif untuk mendapatkan beberapa kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Namun perhatikan lokasi, jadwal, jenis barang, serta ketentuan pembelian karena setiap kegiatan dapat memiliki aturan berbeda.

9. Kurangi makanan yang terbuang

Penghematan tidak selesai setelah pulang dari pasar.

Cara menyimpan dan menggunakan bahan makanan juga menentukan berapa banyak uang yang sebenarnya terbuang.

Gunakan bahan yang lebih cepat rusak terlebih dahulu.

Simpan bahan sesuai karakteristiknya dan periksa stok sebelum membeli lagi.

Jika membeli cabai, sayur, bawang, atau bahan segar lainnya, sesuaikan jumlah dengan kemampuan rumah tangga menghabiskannya sebelum kualitasnya menurun.

Membuang bahan makanan sama dengan membuang sebagian uang yang sudah dikeluarkan untuk membelinya.

10. Catat pengeluaran sembako setiap minggu

Catatan sederhana dapat menunjukkan komoditas mana yang paling banyak menyerap anggaran.

Misalnya dalam satu minggu pengeluaran terbesar ternyata berasal dari lauk, makanan tambahan, atau pembelian yang tidak direncanakan.

Dari catatan tersebut, keluarga dapat menentukan bagian mana yang masih dapat diatur tanpa menghilangkan kebutuhan utama.

Pencatatan tidak harus rumit.

Cukup tuliskan tanggal, barang yang dibeli, jumlah, harga, dan total pengeluaran.

Setelah beberapa minggu, bandingkan hasilnya.

Cara tersebut juga membantu mengetahui apakah kenaikan pengeluaran benar-benar disebabkan harga pangan atau justru jumlah barang yang dibeli semakin banyak.

Selain itu, masyarakat perlu memahami bahwa pemerintah menggunakan Harga Eceran Tertinggi atau HET dan Harga Acuan atau HA pada komoditas tertentu.

Pada pemantauan harga 21 September 2026, Kementerian Perdagangan kembali menegaskan bahwa HET dan HA digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga keseimbangan antara harga yang diterima produsen dan keterjangkauan bagi konsumen.

Namun tidak semua bahan pangan memiliki HET yang sama dan harga di pasar juga dapat berbeda berdasarkan daerah, kualitas, serta jalur distribusi.

Karena itu, bandingkan harga berdasarkan jenis dan kualitas barang yang sama.

Pada akhirnya, menghadapi harga sembako yang mahal tidak harus dilakukan dengan membeli makanan sesedikit mungkin.

Langkah yang lebih realistis adalah mengurangi pembelian yang tidak diperlukan, memilih menu secara fleksibel, membandingkan harga, menghindari bahan terbuang, dan membeli sesuai kemampuan rumah tangga.

Penghematan kecil pada satu kali belanja mungkin tidak terasa besar.

Namun jika dilakukan secara konsisten setiap minggu, selisih pengeluaran tersebut dapat membantu menjaga anggaran rumah tangga tanpa harus menghilangkan kebutuhan pokok.