PALU, SULTENGEASY – Suasana sibuk dan tawar-menawar yang khas selalu mewarnai aktivitas harian di pusat-pusat niaga rakyat seperti Pasar Inpres Manonda dan Pasar Masomba, Kota Palu. Memasuki pekan pertama bulan Oktober 2026, roda perekonomian lokal di kedua pasar ini terus berputar dengan ritme yang positif.
Stabilitas harga dan ketersediaan bahan kebutuhan pokok, seperti beras, minyak goreng, dan bumbu dapur, terpantau aman sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dengan baik.
Di balik hiruk-pikuk aktivitas jual beli tersebut, ada sebuah pemandangan menarik yang kian marak ditemui. Kertas cetakan kode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) kini jamak bersanding dengan timbangan dan hamparan barang dagangan di lapak-lapak sederhana. Para pedagang kecil yang selama ini identik dengan transaksi uang kartal, secara bertahap mulai melek dan beradaptasi dengan sistem pembayaran digital.
Langkah adaptif ini menjadi bukti nyata tingginya daya juang para pedagang pasar tradisional untuk terus relevan dengan perkembangan zaman. Penggunaan transaksi non-tunai diakui membawa banyak kemudahan yang mendukung kelancaran usaha mereka setiap harinya.
Bagi para pedagang, sistem kode pindai ini dinilai sangat praktis karena mereka tidak perlu lagi repot menyiapkan atau menukarkan uang kembalian pecahan kecil. Lebih dari itu, pembayaran langsung ke rekening ini secara efektif memberikan rasa aman dan meminimalisasi kekhawatiran pedagang terhadap risiko penerimaan uang palsu atau terselip.
Banyak pembeli, terutama dari kalangan pekerja dan milenial yang singgah berbelanja usai beraktivitas, merasa sangat terbantu karena bisa berbelanja sayur, lauk pauk, hingga kebutuhan dapur lainnya hanya bermodalkan telepon pintar. Interaksi jual beli pun menjadi lebih cepat dan higienis.
Fenomena positif ini juga tidak lepas dari dukungan ekosistem perbankan daerah dan pemerintah yang konsisten memberikan literasi keuangan dan pendampingan yang ramah bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Perpaduan antara kehangatan interaksi khas pasar tradisional dengan sentuhan efisiensi teknologi kekinian ini menghadirkan wajah perekonomian Kota Palu yang semakin berdaya saing. Pedagang kecil membuktikan bahwa mereka adalah pilar ekonomi daerah yang tangguh, adaptif, dan siap memberikan kemudahan pelayanan demi kenyamanan warga.