PALU – Kondisi cuaca di Sulawesi Tengah pada Jumat, 2 Oktober 2026 diprakirakan masih didominasi pola relatif kering, meski peluang pertumbuhan awan dan hujan lokal belum sepenuhnya hilang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prospek cuaca 2–5 Oktober 2026 menyebut kondisi Indonesia umumnya didominasi cerah berawan hingga hujan ringan.
Untuk Sulawesi Tengah, kondisi atmosfer lokal masih memiliki tingkat labilitas yang dapat mendukung pertumbuhan awan apabila tersedia cukup uap air.
Kota Palu secara khusus diprakirakan mengalami udara kabur pada Jumat.
1. Prakiraan Cuaca 13 Kabupaten dan Kota di Sulteng
BMKG memprakirakan seluruh 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah berada dalam kecenderungan curah hujan rendah pada Dasarian I Oktober 2026.
Berikut gambaran wilayahnya:
Banggai: Kondisi relatif kering dominan, peluang hujan lokal tetap ada.
Poso: Kondisi relatif kering dominan, dengan peluang perubahan cuaca lokal.
Donggala: Cerah berawan hingga berawan secara umum, dengan peluang udara kabur.
Tolitoli: Cerah dominan. Di Kecamatan Tolitoli Utara, suhu berkisar sekitar 21–30°C.
Buol: Cerah berawan hingga berawan, dengan potensi udara kabur pada malam hari.
Morowali: Kondisi relatif kering dominan, peluang hujan lokal tetap dapat terjadi.
Banggai Kepulauan: Cerah berawan hingga berawan menjadi kecenderungan umum.
Parigi Moutong: Kondisi relatif kering dominan, tetapi perubahan cuaca lokal masih memungkinkan.
Tojo Una-Una: Kondisi relatif kering dominan dengan peluang awan berkembang secara lokal.
Sigi: Kondisi relatif kering dominan, sementara wilayah pegunungan tetap berpeluang mengalami perubahan cuaca lokal.
Banggai Laut: Cerah berawan hingga berawan, termasuk di wilayah perairannya.
Morowali Utara: Berawan hingga berawan tebal di wilayah perairan, kemudian berpotensi udara kabur pada malam hari.
Kota Palu: Udara kabur menjadi kondisi yang diprakirakan secara umum pada Jumat.
Secara klimatologis, seluruh wilayah tersebut masuk kategori curah hujan rendah 0–50 mm untuk periode 10 hari pertama Oktober.
Prakiraan dasarian tersebut tidak berarti hujan sama sekali tidak akan terjadi. Hujan dalam durasi singkat tetap dapat muncul secara lokal.
2. Palu Diprakirakan Mengalami Udara Kabur
Prakiraan cuaca kota-kota besar yang merujuk BMKG menempatkan Palu dalam kategori udara kabur pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Kondisi udara kabur dapat berkaitan dengan berkurangnya jarak pandang akibat partikel yang berada di atmosfer.
Masyarakat, terutama pengguna jalan dan mereka yang melakukan perjalanan pada pagi atau malam hari, perlu memperhatikan jarak pandang apabila kondisi tersebut terjadi.
Kondisi ini juga muncul bersamaan dengan periode cuaca yang relatif kering di sebagian wilayah Sulawesi.
3. Hujan Lokal Tetap Bisa Terjadi
Meski kondisi kering masih dominan, bukan berarti seluruh Sulawesi Tengah akan bebas hujan.
BMKG mencatat tingkat labilitas atmosfer yang kuat masih dapat terjadi di sebagian Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut dapat mendukung proses pengangkatan massa udara dan pembentukan awan konvektif apabila tersedia kelembapan yang cukup.
Karena itu, hujan ringan hingga sedang dalam skala lokal masih dapat berkembang, terutama ketika kondisi atmosfer berubah pada siang, sore, atau malam hari.
4. Belum Ada Peringatan Dini Aktif untuk Sulteng Pagi Ini
Berdasarkan halaman peringatan dini BMKG yang diperiksa Jumat pagi, Sulawesi Tengah tidak tercantum dalam daftar provinsi dengan peringatan dini cuaca aktif.
Peringatan aktif saat pengecekan tercatat untuk sejumlah provinsi lain seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Riau, Lampung, dan Aceh.
Namun, peringatan dini merupakan produk nowcasting yang berlaku dalam periode sangat pendek, sekitar 0–6 jam.
Status tersebut dapat berubah sewaktu-waktu apabila BMKG mendeteksi perkembangan awan hujan atau cuaca ekstrem baru.
5. Kondisi Angin dan Gelombang
Kondisi perairan Sulawesi Tengah secara umum berada pada kategori tenang hingga gelombang rendah.
Di Laut Sulawesi bagian tengah, tinggi gelombang pada Jumat diprakirakan sekitar 0,5–0,8 meter dengan kategori rendah.
Cuaca di kawasan tersebut dapat berupa udara kabur pada pagi hari sebelum berubah menjadi berawan tebal pada siang dan sore.
Di Perairan Buol, tinggi gelombang diprakirakan sekitar 0,2–0,4 meter atau kategori tenang.
Sementara di Perairan Morowali Utara, gelombang berada pada kisaran sekitar 0,5–0,8 meter dengan kondisi berawan hingga berawan tebal dan potensi udara kabur pada malam hari.
Nelayan dan pengguna transportasi laut tetap perlu memantau perubahan arah dan kecepatan angin sebelum beraktivitas.
6. Risiko Karhutla Masih Perlu Diwaspadai
Kondisi relatif kering pada awal Oktober membuat risiko kebakaran hutan dan lahan tetap perlu mendapat perhatian.
BMKG memprakirakan seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah dominan mengalami curah hujan rendah, yakni 0–50 mm pada Dasarian I Oktober 2026.
Kondisi vegetasi kering, suhu tinggi pada siang hari, dan angin dapat membantu api menyebar lebih cepat apabila terjadi kebakaran.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan memastikan api benar-benar padam setelah digunakan.
Prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer sehingga masyarakat disarankan tetap memantau pembaruan BMKG sepanjang Jumat, terutama apabila akan melakukan perjalanan, aktivitas luar ruangan, atau kegiatan di wilayah perairan.