PALU – Kondisi cuaca di Sulawesi Tengah pada Senin, 5 Oktober 2026 masih berada dalam pola relatif kering, meski awan tebal dan peluang hujan lokal tetap dapat berkembang di sejumlah wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara khusus memprakirakan Kota Palu mengalami cuaca berawan tebal pada Senin.
Sementara berdasarkan prediksi curah hujan Dasarian I Oktober 2026, seluruh 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah berada dalam kategori curah hujan rendah, yakni sekitar 0–50 mm per dasarian.
1. Prakiraan Cuaca 13 Kabupaten dan Kota di Sulteng
Berikut gambaran kecenderungan cuaca di 13 kabupaten dan kota Sulawesi Tengah pada Senin, 5 Oktober 2026:
Banggai: Kondisi relatif kering masih dominan, dengan peluang berawan hingga hujan lokal.
Poso: Cenderung kering, namun pertumbuhan awan secara lokal tetap memungkinkan.
Donggala: Berawan hingga berawan tebal di sejumlah wilayah, terutama kawasan pesisir.
Tolitoli: Kondisi relatif kering dengan peluang perubahan cuaca lokal.
Buol: Berawan hingga udara kabur berpotensi terjadi, terutama pada pagi dan malam hari.
Morowali: Kondisi relatif kering dominan, dengan peluang awan berkembang secara lokal.
Banggai Kepulauan: Berawan hingga berawan tebal menjadi kecenderungan di kawasan kepulauan.
Parigi Moutong: Kondisi kering masih dominan dengan peluang hujan lokal yang terbatas.
Tojo Una-Una: Berawan hingga kondisi relatif kering, dengan perubahan cuaca lokal tetap mungkin terjadi.
Sigi: Kondisi relatif kering masih mendominasi, terutama pada siang hari.
Banggai Laut: Berawan hingga berawan tebal diprakirakan mendominasi wilayah kepulauan.
Morowali Utara: Kondisi relatif kering dengan peluang pertumbuhan awan secara lokal.
Kota Palu: Berawan tebal menjadi kondisi cuaca utama yang diprakirakan BMKG.
Secara umum, seluruh 13 kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah masih berada dalam wilayah dengan prediksi curah hujan rendah pada Dasarian I Oktober 2026.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti hujan sama sekali tidak terjadi. Hujan ringan hingga sedang masih dapat terbentuk secara lokal dalam durasi relatif singkat.
2. Peringatan Dini BMKG
Dalam prospek cuaca nasional periode 2–5 Oktober 2026, Sulawesi Tengah tidak tercantum dalam daftar wilayah berstatus siaga hujan lebat hingga sangat lebat.
Sulawesi Tengah juga tidak masuk daftar provinsi dengan potensi angin kencang dalam prospek nasional periode tersebut.
Namun, BMKG mencatat tingkat labilitas atmosfer yang cukup kuat di Sulawesi Tengah.
Kondisi ini dapat mendukung pertumbuhan awan konvektif secara lokal apabila tersedia uap air yang cukup.
Karena itu, hujan lokal yang dapat disertai petir maupun angin kencang dalam waktu singkat tetap perlu diantisipasi meski kondisi umum masih relatif kering.
Peringatan dini jangka pendek dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer sehingga masyarakat tetap perlu memperhatikan pembaruan BMKG.
3. Kondisi Angin dan Gelombang
BMKG juga menerbitkan prakiraan cuaca maritim untuk sejumlah perairan di sekitar Sulawesi Tengah.
Di Perairan Donggala–Palu, gelombang pada Senin diprakirakan sekitar 0,8–1,1 meter.
Pada pagi hari, angin di kawasan tersebut dapat bertiup dari barat dengan kecepatan sekitar 11 knot, dengan hembusan sesaat yang dapat mencapai sekitar 24 knot.
Kondisi cuaca di Perairan Donggala–Palu didominasi berawan tebal pada pagi hingga sore dan berkabut pada malam hari.
Di Perairan Banggai Laut, gelombang berada di kisaran sekitar 0,8 meter dengan kondisi berawan tebal mendominasi sepanjang hari.
Sementara Perairan Timur Banggai memiliki gelombang sekitar 1,1 meter pada awal hari dengan angin dari barat daya sekitar 14 knot.
Di Perairan Buol, tinggi gelombang relatif lebih rendah, berkisar sekitar 0,3–0,6 meter. Kondisi berawan, udara kabur, dan berawan tebal bergantian sepanjang hari.
Laut Sulawesi bagian tengah diprakirakan memiliki gelombang sekitar 0,6–1 meter dengan angin dominan dari barat hingga barat daya.
4. Catatan Tambahan
BMKG memprediksi seluruh wilayah Sulawesi Tengah mengalami curah hujan rendah, sekitar 0–50 mm, pada Dasarian I Oktober 2026.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan tetap penting.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan atau membakar sampah di kawasan yang mudah terbakar.
Pengguna jalan juga perlu memperhatikan kemungkinan udara kabur atau kabut yang dapat mengurangi jarak pandang, terutama pada pagi dan malam hari.
Nelayan dan pengguna transportasi laut disarankan memperhatikan kecepatan angin dan hembusan sesaat meski ketinggian gelombang di sejumlah perairan masih berada dalam kategori rendah.
Prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. Masyarakat disarankan memantau informasi terbaru dan peringatan dini resmi BMKG sebelum melakukan perjalanan maupun aktivitas di luar ruangan.