MOROWALI, SULTENG EASY – Sebanyak 70 orang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Petani Bersatu menggelar aksi unjuk rasa di kawasan operasional PT Vale Indonesia Tbk, Desa Bahomotefe, Kecamatan Bungku Timur, Kabupaten Morowali, pada Senin (26/10/2026).
Enam Tuntutan Utama Masyarakat Petani
Dalam penyampaian aspirasinya, aliansi petani menyoroti sejumlah persoalan krusial yang berkaitan langsung dengan ruang hidup dan aktivitas perkebunan warga di sekitar wilayah konsesi, meliputi:
1. Pertanggungjawaban Kerusakan Tanaman: Meminta pertanggungjawaban pihak PT Vale Indonesia Tbk atas dugaan pengrusakan tanaman milik petani setempat.
2. Penyelesaian Lewat Restorative Justice: Mendesak pencabutan laporan atau berkas perkara yang telah dilayangkan ke tingkat Polda serta mendorong penyelesaian masalah melalui mekanisme keadilan restoratif (restorative justice).
3. Ruang Aktivitas Pertanian: Mendesak pihak perusahaan dan pemerintah untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas pertanian di wilayah Morowali Blok Bahodopi.
4. Penolakan Dugaan Kriminalisasi Petani: Menuntut penghapusan larangan berkebun bagi warga serta meminta penghentian prosedur permintaan data kepada petani saat hendak beraktivitas di kebun.
5. Pengembalian Barang Warga: Meminta pengembalian barang-barang milik masyarakat yang diklaim masih dikuasai atau disita oleh petugas keamanan (security) perusahaan.
6. Pembukaan Akses Jalan Tani: Mendesak agar larangan penggunaan akses jalan tani segera dihentikan, mengingat jalur tersebut telah digunakan oleh masyarakat jauh sebelum beroperasinya perusahaan.
Sempat Terobos Blokade dan Dirikan Tenda di Jalur Hauling
Ketegangan sempat terjadi saat massa tiba di gerbang pintu masuk PT Vale sekitar pukul 09.33 WITA. Massa aksi menerobos blokade petugas keamanan hingga berhasil mencapai area kantor utama pada pukul 09.50 WITA. Di lokasi tersebut, pengunjuk rasa meminta agar gedung dikosongkan sehingga seluruh staf administrasi dan karyawan terpaksa keluar dari dalam kantor.
Lantaran belum ada perwakilan manajemen yang menemui mereka, massa kemudian memperluas titik orasi dengan bergerak menuju area mes (dormitory) dan berlanjut ke kawasan dermaga (jetty) menjelang siang hari, massa aksi mendirikan tenda di badan jalan hauling perusahaan.
Gesekan kecil berupa aksi saling dorong juga sempat terjadi ketika sebagian massa mendatangi perusahaan kontraktor lokal, PT GBK, untuk menghentikan aktivitas kerja di lokasi tersebut. Namun, situasi berhasil diredam dan kembali kondusif.
Tolak Dialog Tanpa Pengambil Kebijakan
Pihak manajemen PT Vale sempat turun menemui pengunjuk rasa untuk membuka ruang dialog. Kendati demikian, massa aksi menolak berunding lantaran perwakilan yang hadir dinilai bukan merupakan pejabat pengambil kebijakan langsung di perusahaan.
Sebagian warga masih memilih bertahan di tenda yang berimbas pada terhentinya sementara aktivitas operasional perusahaan.