MOROWALI – Dewan Pengurus Cabang Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (DPC ABMI) Morowali menggelar aksi di kawasan PT International Green Industrial Park (IGIP), Desa Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Kabupaten Morowali, Sabtu, 26 September 2026.
Aksi yang diikuti sekitar 40 orang tersebut menyoroti keterlibatan perusahaan bongkar muat (PBM) lokal dalam aktivitas di kawasan PT IGIP.
Massa mendatangi area jetty sekitar pukul 08.45 WITA dan menyampaikan aspirasi secara bergantian. Mereka juga meminta aktivitas di jetty dihentikan sementara selama aksi berlangsung.
1. ABMI Soroti Keterlibatan PBM Lokal
Dalam dialog dengan manajemen PT IGIP, perwakilan DPC ABMI Morowali menyampaikan harapan agar PBM lokal tetap mendapat ruang dalam kegiatan bongkar muat perusahaan.
Menurut perwakilan asosiasi, persoalan muncul setelah adanya PBM yang bekerja dengan perusahaan tanpa komunikasi terlebih dahulu dengan asosiasi maupun sejumlah PBM lokal.
ABMI juga menyampaikan bahwa keberadaan asosiasi ditujukan untuk menaungi pengusaha bongkar muat lokal, termasuk membantu penyampaian informasi mengenai teknis pengelolaan usaha.
Selain pola kerja sama, harga jasa bongkar muat turut menjadi pembahasan. Perwakilan ABMI menyatakan harga yang ditawarkan masih perlu dinegosiasikan kembali dengan perusahaan karena berkaitan dengan perhitungan biaya operasional PBM.
2. PT IGIP Nyatakan Tetap Ingin Gandeng Pengusaha Lokal
Dalam pertemuan tersebut, manajemen PT IGIP menyampaikan keinginan perusahaan untuk tetap bekerja sama dan memberdayakan pengusaha lokal.
Namun, perusahaan menginginkan pola kerja sama langsung dengan pemilik PBM lokal di Sambalagi dan Were'ea tanpa melalui asosiasi.
Manajemen juga menyampaikan bahwa kondisi operasional perusahaan saat ini menjadi salah satu pertimbangan dalam pembahasan biaya. Untuk persoalan teknis, perusahaan menyatakan siap memberikan pendampingan kepada PBM lokal.
Dengan demikian, dialog memperlihatkan adanya perbedaan pandangan mengenai mekanisme kerja sama. ABMI menginginkan PBM lokal tetap berada dalam naungan asosiasi, sedangkan PT IGIP menawarkan hubungan kerja sama langsung dengan masing-masing PBM lokal.
3. Pemerintah Desa Dorong Penyelesaian Melalui Dialog
Kepala Desa Sambalagi Hendra menyampaikan bahwa pemerintah desa berupaya berada di tengah antara perusahaan dan pelaku usaha lokal.
Menurutnya, komunikasi sebelumnya dengan pihak perusahaan telah membahas rencana pemberdayaan PBM lokal.
Pemerintah desa tidak masuk dalam pembahasan teknis maupun komersial antara perusahaan dan PBM, tetapi mendorong kedua pihak mencari titik temu melalui dialog.
4. Negosiasi Harga Belum Mencapai Kesepakatan
Pertemuan antara manajemen PT IGIP dan perwakilan DPC ABMI Morowali berlangsung hingga menjelang siang sebelum dihentikan sementara untuk istirahat dan memberikan kesempatan kepada para pemilik PBM melakukan pembahasan internal.
Salah satu persoalan yang belum selesai adalah negosiasi harga jasa bongkar muat.
Perwakilan ABMI meminta perusahaan mempertimbangkan harga yang telah mereka ajukan berdasarkan perhitungan modal usaha, sedangkan pihak perusahaan meminta ruang untuk membahas permintaan tersebut lebih lanjut dengan jajaran manajemen.
Hingga sore hari, belum berlangsung pertemuan lanjutan antara kedua pihak.
5. Aktivitas Jetty Terhenti hingga Sore
Dalam rangkaian aksi, sempat terjadi ketegangan ketika sejumlah peserta berupaya membuka tali kapal kargo yang sedang bersandar di jetty. Upaya tersebut dihentikan setelah mendapat imbauan dari petugas keamanan dan pihak terkait di lokasi.
Setelah itu, perwakilan massa dan perusahaan melanjutkan penyelesaian persoalan melalui pertemuan.
Hingga sekitar pukul 18.10 WITA, aktivitas di jetty PT IGIP belum berjalan.
Aksi kemudian berakhir sekitar pukul 18.15 WITA. Berdasarkan informasi terakhir yang diterima, belum ada kesepakatan final mengenai harga maupun mekanisme kerja sama antara PT IGIP dan PBM lokal.
Pembahasan lanjutan diperlukan untuk mempertemukan kepentingan perusahaan, PBM lokal, dan asosiasi terkait pola kerja sama kegiatan bongkar muat di kawasan tersebut.