MOROWALI – Sekitar 150 orang yang tergabung dalam Aliansi Lipo Tondo Bersatu (Alitob) menggelar aksi di kawasan PT BTIIG, Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali, Sabtu, 26 September 2026.
Massa yang berasal dari Desa Tondo membawa sejumlah tuntutan terkait dampak aktivitas industri dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan perusahaan.
Aksi dimulai di depan Kantor Folili PT BTIIG sekitar pukul 09.00 WITA. Massa menyampaikan aspirasi melalui orasi sebelum melakukan dialog dengan perwakilan perusahaan.
1. Empat Tuntutan Warga Tondo
Alitob membawa empat tuntutan utama dalam aksi tersebut.
Rekrutmen tenaga kerja dari masyarakat Desa Tondo.
Kompensasi terkait dampak debu yang dirasakan warga.
Transparansi dana CSR untuk Desa Tondo.
Pemberdayaan UMKM masyarakat Desa Tondo.
Dalam penyampaian aspirasinya, perwakilan massa menempatkan persoalan kompensasi debu sebagai salah satu tuntutan yang diprioritaskan.
Perwakilan Alitob mengklaim debu dari aktivitas perusahaan telah berdampak terhadap masyarakat, termasuk kesehatan sejumlah warga. Klaim mengenai dampak kesehatan tersebut belum disertai hasil pemeriksaan medis atau keterangan instansi berwenang dalam informasi yang diterima.
2. Massa Minta Kepastian Rekrutmen Tenaga Kerja Lokal
Persoalan kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar kawasan industri juga menjadi pembahasan utama.
Perwakilan massa meminta tindak lanjut terhadap sekitar 30 calon tenaga kerja dari Desa Tondo yang sebelumnya telah diajukan. Mereka juga mengusulkan adanya keterwakilan masyarakat desa lingkar industri dalam proses rekrutmen.
Selain itu, massa menyampaikan keberatan terhadap salah seorang karyawan yang mereka kaitkan dengan proses penerimaan tenaga kerja dan meminta perusahaan melakukan evaluasi.
Pihak perusahaan menyatakan permintaan tersebut tidak dapat serta-merta diputuskan dan memerlukan proses evaluasi.
3. Perusahaan Sebut 30 Calon Pekerja Masih Berproses
Manajemen HRD PT BTIIG menyampaikan bahwa perusahaan telah melakukan upaya perekrutan tenaga kerja lokal dari desa-desa di sekitar kawasan industri.
Namun, menurut perusahaan, saat ini belum tersedia lowongan dari empat tenant yang berada di kawasan tersebut. Lowongan yang tersedia disebut terbatas pada posisi tertentu, termasuk juru bicara dan operator yang mensyaratkan Surat Izin Operator (SIO).
Terkait sekitar 30 calon tenaga kerja asal Desa Tondo, manajemen menyatakan nama-nama tersebut masih dalam proses dan menunggu kebutuhan tenaga kerja dari tenant yang membuka lowongan.
4. Kompensasi Debu Belum Mendapat Keputusan
Dialog antara perwakilan Alitob dan manajemen PT BTIIG berlangsung sekitar pukul 10.00 WITA.
Dalam pembahasan mengenai kompensasi debu, pihak perusahaan menyampaikan bahwa keputusan terkait tuntutan tersebut memerlukan pembahasan lebih lanjut.
Perwakilan manajemen yang hadir menyatakan belum memiliki kewenangan untuk memberikan keputusan mengenai kompensasi yang diminta warga.
Dialog berakhir sekitar pukul 10.50 WITA tanpa menghasilkan kesepakatan mengenai tuntutan utama massa.
5. Massa Bergerak ke Jetty
Setelah dialog belum menghasilkan kesepakatan, massa memasang tenda di depan Kantor Folili PT BTIIG dan menunggu tanggapan lanjutan perusahaan.
Sebelumnya, dalam rangkaian aksi di depan kantor sempat terjadi dorong-mendorong ketika massa meminta perwakilan manajemen menemui mereka. Massa juga melakukan pembakaran ban sebagai bagian dari aksi.
Sekitar pukul 14.17 WITA, peserta aksi kemudian bergerak menuju Jetty Ambunu/Tondo di kawasan PT BTIIG.
Aksi unjuk rasa secara umum berakhir sekitar pukul 17.30 WITA. Namun, sekitar 40 warga Desa Tondo masih bertahan di area jetty untuk menunggu jawaban perusahaan atas tuntutan yang telah disampaikan.
Hingga informasi terakhir diterima, belum terdapat kesepakatan final antara perwakilan warga dan perusahaan terkait kompensasi debu, perekrutan tenaga kerja maupun tuntutan lainnya.