PALU – Sebanyak 18 orang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat (Ampera) menggelar aksi unjuk rasa di Kantor PLN UP3 Palu, Jalan R.A. Kartini, Kelurahan Lolu Selatan, Kota Palu, Senin, 28 September 2026.
Massa menyoroti pemadaman listrik yang dinilai mengganggu aktivitas masyarakat dan pelaku usaha serta meminta PLN memberikan kepastian mengenai jadwal pemadaman.
Selain perbaikan pelayanan, mahasiswa juga mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai salah satu alternatif sumber energi di Kota Palu.
1. Mahasiswa Bawa Tiga Tuntutan
Aksi dipimpin koordinator lapangan Moh. Fitra dan mulai berlangsung setelah massa tiba di Kantor PLN UP3 Palu sekitar pukul 14.47 WITA.
Ampera membawa tiga tuntutan utama, yakni meminta pasokan listrik dapat tersedia secara berkelanjutan, evaluasi terhadap kinerja pelayanan PLN, serta pengadaan PLTS di Kota Palu.
Dalam orasinya, massa menyampaikan keluhan mengenai jadwal pemadaman yang menurut mereka tidak selalu sesuai dengan informasi yang diterima masyarakat.
Mahasiswa juga menyoroti dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah yang bergantung pada pasokan listrik.
Massa turut menyampaikan kekhawatiran mengenai peralatan elektronik serta aktivitas masyarakat pada malam hari ketika pemadaman terjadi.
Sejumlah pernyataan mengenai kerusakan barang elektronik maupun kaitan pemadaman dengan kriminalitas merupakan keluhan yang disampaikan massa dalam aksi dan tidak disertai data pembuktian dalam laporan kegiatan.
2. Massa Minta Kepastian Jadwal Pemadaman
Salah satu hal yang berulang kali disampaikan peserta aksi adalah kepastian jadwal pemadaman.
Massa meminta informasi yang disampaikan PLN sesuai dengan kondisi pelaksanaan di lapangan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitasnya.
Mereka menilai pemadaman yang berubah-ubah menyulitkan masyarakat merencanakan kegiatan rumah tangga maupun usaha.
Ampera juga meminta PLN memberikan penjelasan mengenai berapa lama kondisi pemadaman bergilir diperkirakan berlangsung dan langkah yang disiapkan untuk mengatasinya.
3. PLN Jelaskan Kondisi Sistem Kelistrikan
Perwakilan PLN UP3 Palu kemudian menemui peserta aksi dan mengajak mereka melakukan audiensi di dalam kantor.
Dalam pertemuan tersebut, PLN menyatakan memahami ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat akibat pemadaman listrik berkala.
Menurut penjelasan pihak PLN dalam audiensi, perusahaan tengah berupaya menghubungkan sistem kelistrikan di Sulawesi Tengah, meski koneksi sistem disebut masih terputus di wilayah kerja UP3 Tolitoli.
PLN menjelaskan pemadaman bergilir dilakukan sebagai langkah menjaga kestabilan sistem agar tidak terjadi pemadaman total atau blackout yang membutuhkan waktu pemulihan lebih lama.
Pihak PLN juga menyebut pasokan yang menopang sistem saat ini antara lain berasal dari PLTA Poso sebesar 90 MW serta tambahan sekitar 10 MW dari PLTD Silae.
Angka tersebut merupakan penjelasan yang disampaikan pihak PLN dalam audiensi dengan mahasiswa.
4. Jadwal Pemadaman Disebut Mengikuti Kondisi Beban Sistem
Dalam audiensi, Asisten Manajer Perencanaan PLN UP3 Palu Made Agus Adi Mertha menjelaskan kebutuhan pengurangan beban sistem dapat berubah dan pada kondisi tertentu disebut dapat mencapai sekitar 30 MW.
Menurut PLN, kondisi tersebut menyebabkan lokasi dan jadwal pemadaman harus disesuaikan secara dinamis.
Perusahaan juga menyampaikan telah merencanakan penambahan pembangkit listrik tenaga diesel sewa di Bungku, Sidera, dan Silae sebagai bagian dari upaya menambah pasokan.
PLN turut menyampaikan bahwa kondisi iklim dan ketersediaan sumber energi menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sistem kelistrikan.
5. Pengembangan PLTS Turut Dibahas
Usulan mahasiswa mengenai PLTS turut menjadi pembahasan dalam audiensi.
PLN menjelaskan pembangunan PLTS membutuhkan lahan serta studi kelayakan sebelum dapat direalisasikan.
Dalam pertemuan tersebut, pihak PLN menyebut kebutuhan lahan PLTS secara umum sekitar 1 hektare untuk setiap 1 MW kapasitas.
PLN juga menyampaikan telah berkoordinasi dengan pemerintah desa terkait kemungkinan penyediaan lahan untuk pengembangan energi surya.
Namun, penjelasan mengenai kebutuhan 900 hektare untuk memenuhi 900 MW yang disampaikan dalam audiensi masih berupa paparan pihak PLN dan tidak disertai rincian studi teknis dalam laporan kegiatan.
6. Kekhawatiran Kerusakan Elektronik Dijawab PLN
Massa turut mempertanyakan potensi kerusakan peralatan elektronik akibat pemadaman listrik yang tidak teratur.
Pihak PLN menyampaikan bahwa menurut penilaiannya, risiko tersebut relatif kecil karena banyak perangkat elektronik modern telah dilengkapi sistem perlindungan terhadap lonjakan daya.
Meski demikian, massa tetap meminta peningkatan kualitas pelayanan serta informasi pemadaman yang lebih tepat agar masyarakat dapat melakukan antisipasi.
Audiensi menjadi ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan pandangan mengenai kondisi pasokan listrik dan kebutuhan masyarakat.
Aksi Aliansi Mahasiswa Peduli Rakyat kemudian selesai sekitar pukul 16.24 WITA.