PALU – Masa muda sering identik dengan waktu untuk belajar, berkumpul bersama teman, bermain game, menonton video, atau menikmati media sosial.

Tidak ada yang salah dengan hiburan. Masalahnya muncul ketika sebagian besar waktu luang habis tanpa menghasilkan keterampilan, pengalaman, atau sesuatu yang berguna untuk masa depan.

Di tengah persaingan kerja yang semakin luas, anak muda dapat mulai menggunakan sebagian waktunya untuk membangun kemampuan yang suatu hari bisa menjadi sumber penghasilan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada 2025 sebanyak 20,14 persen penduduk usia 15–24 tahun di Sulawesi Tengah berada dalam kondisi tidak sedang sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya membuka lebih banyak jalan bagi anak muda untuk belajar keterampilan, mendapatkan pengalaman, dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja maupun usaha.

BPS juga mencatat tingkat pengangguran pemuda secara nasional masih sekitar dua kali tingkat pengangguran nasional. Lebih dari sepertiga pemuda yang bekerja juga menghadapi ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan dan pekerjaan yang dijalani.

Karena itu, memiliki ijazah saja belum selalu cukup. Keterampilan yang dapat digunakan dalam pekerjaan atau usaha juga perlu dibangun sejak muda.

Berikut 12 keterampilan dan kegiatan produktif yang dapat mulai dipelajari.

1. Belajar edit video

Video pendek kini digunakan oleh usaha kecil, toko, organisasi, sekolah, komunitas, hingga pembuat konten untuk menyampaikan informasi dan promosi.

Anak muda yang memiliki ponsel dapat mulai belajar memotong video, menambahkan teks, mengatur suara, membuat transisi sederhana, dan menyusun cerita agar mudah ditonton.

Tidak perlu langsung membeli komputer atau kamera mahal.

Mulailah dari perangkat yang tersedia. Buat 3 hingga 5 contoh video sebagai portofolio, kemudian tawarkan kemampuan tersebut kepada usaha atau orang yang membutuhkan.

Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 juga menyediakan pelatihan Video Content Creator melalui program Digital Talent Scholarship.

2. Belajar desain sederhana

Kemampuan membuat poster, daftar harga, menu makanan, undangan digital, katalog produk, hingga konten media sosial dapat digunakan sebagai jasa.

Banyak usaha kecil membutuhkan desain sederhana tetapi tidak mempunyai orang khusus untuk mengerjakannya.

Pelajari dasar penggunaan aplikasi desain, pemilihan huruf, tata letak, ukuran gambar, dan cara membuat informasi mudah dibaca.

Setelah memiliki beberapa contoh karya, mulai tawarkan jasa dalam skala kecil.

3. Menjadi admin media sosial

Banyak warung, toko, tempat makan, bengkel, penjual makanan, atau usaha rumahan sudah memiliki media sosial tetapi jarang memperbaruinya.

Anak muda yang terbiasa menggunakan WhatsApp, Facebook, Instagram, atau TikTok dapat belajar mengelola akun usaha.

Tugasnya dapat berupa mengambil foto produk, membuat unggahan, membalas pesan pelanggan, memperbarui katalog, hingga mengatur jadwal konten.

Namun kemampuan menggunakan media sosial untuk hiburan berbeda dengan mengelola media sosial sebagai pekerjaan.

Pelajari juga cara berkomunikasi dengan pelanggan, membuat informasi yang jelas, dan menjaga konsistensi.

4. Belajar pemasaran digital

Pemasaran digital bukan sekadar membuat video yang ramai ditonton.

Pelajari siapa calon pelanggan, apa yang mereka butuhkan, bagaimana menjelaskan manfaat produk, menentukan harga, membuat penawaran, dan mengukur apakah promosi menghasilkan pembelian.

Program Digital Talent Scholarship 2026 juga menyediakan pelatihan Pemasaran Digital Dasar serta Pemasaran Digital Menggunakan Kecerdasan Artifisial.

Keterampilan tersebut dapat digunakan untuk membantu usaha sendiri maupun menawarkan jasa kepada pelaku UMKM.

5. Membuat konten dengan tema yang jelas

Jika senang membuat video, jangan hanya mengejar jumlah penonton.

Pilih bidang yang benar-benar diminati dan dapat dipelajari secara terus-menerus.

Misalnya olahraga lokal, kuliner, otomotif, teknologi, pendidikan, pertanian, kerajinan, wisata, permainan, atau keterampilan tertentu.

Membuat konten secara konsisten dapat melatih kemampuan mengambil gambar, berbicara, menulis, melakukan riset, mengedit, dan berkomunikasi.

Penghasilan dari konten tidak selalu datang dengan cepat. Karena itu, jadikan kemampuan dan portofolio sebagai target awal, bukan langsung berharap mendapatkan uang dari jumlah penonton.

6. Belajar foto dan video sederhana

Kegiatan keluarga, pertandingan olahraga, produk UMKM, kegiatan sekolah, komunitas, hingga usaha makanan membutuhkan dokumentasi.

Ponsel yang tersedia dapat digunakan untuk belajar komposisi, pencahayaan, sudut pengambilan gambar, serta penyuntingan dasar.

Mulailah dengan mendokumentasikan kegiatan sendiri atau membantu orang terdekat.

Jika hasilnya semakin baik, kumpulkan menjadi portofolio dan tawarkan jasa secara wajar.

7. Gunakan keterampilan yang sudah dimiliki sebagai jasa

Tidak semua penghasilan anak muda harus berasal dari internet.

Kemampuan sederhana juga dapat dijual sebagai jasa.

Contohnya:

- mencuci motor;

- membersihkan halaman;

- memotong rumput;

- mengetik dokumen;

- membuat presentasi;

- membantu instalasi komputer atau aplikasi;

- servis sederhana;

- mengajar pelajaran sekolah;

- memasak;

- menjahit;

- membuat kerajinan; atau

- membantu usaha keluarga.

Pertanyaannya bukan hanya “saya bisa apa?”, tetapi “kemampuan apa yang saya miliki dan dibutuhkan orang lain?”

8. Cari proyek lepas

Pekerjaan tidak selalu harus dimulai dengan menjadi pegawai tetap.

Kementerian Ketenagakerjaan melalui Karirhub menyediakan informasi lowongan sekaligus proyek lepas.

Pada proyek lepas, pencari kerja dapat memberikan penawaran berupa biaya, lama pengerjaan, dan proposal untuk pekerjaan yang tersedia.

Sebelum mengambil proyek, pastikan kemampuan yang ditawarkan memang dapat dikerjakan.

Jangan mengaku mahir hanya untuk mendapatkan pekerjaan karena hasil yang buruk justru dapat merusak kepercayaan pelanggan.

9. Mulai usaha kecil berdasarkan kemampuan

Anak muda yang memiliki keterampilan atau melihat kebutuhan di lingkungannya dapat mencoba usaha dalam skala kecil.

Misalnya makanan berdasarkan pesanan, jasa desain, cuci motor, tanaman, kerajinan, penjualan kembali barang, servis, fotografi, atau berbagai usaha lain.

Tidak harus langsung menyewa tempat atau membeli stok besar.

Uji lebih dahulu apakah ada pelanggan yang bersedia membayar.

Kementerian Pemuda dan Olahraga juga memiliki program Wirausaha Muda Pemula atau WMP yang ditujukan bagi wirausahawan muda berusia 16–30 tahun yang sedang merintis usaha.

10. Ikuti pelatihan yang tersedia

Jika belum mengetahui keterampilan apa yang ingin dipelajari, manfaatkan program pelatihan yang tersedia.

Skillhub Kementerian Ketenagakerjaan menyediakan berbagai pelatihan vokasi seperti teknologi informasi, bisnis dan manajemen, elektronika, produktivitas, desain, administrasi, serta berbagai bidang lainnya.

Program Pelatihan Vokasi Nasional juga diselenggarakan secara gratis pada periode tertentu.

Peserta yang menyelesaikan program memperoleh sertifikat pelatihan, sedangkan peserta yang lulus pada program yang menyediakan uji kompetensi dapat memperoleh sertifikat kompetensi BNSP.

Sertifikat bukan jaminan langsung mendapatkan pekerjaan, tetapi pelatihan dapat membantu menambah keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja atau berusaha.

11. Belajar coding, AI, dan teknologi secara bertahap

Anak muda yang tertarik teknologi dapat mulai belajar pemrograman, pembuatan aplikasi, desain web, analisis data, atau pemanfaatan kecerdasan artifisial.

Tidak perlu memahami semuanya sekaligus.

Pilih satu bidang dan pelajari dari dasar.

Digital Talent Scholarship pada 2026 menyediakan berbagai pelatihan mulai dari pemrograman Python, pemasaran digital, desain, hingga pemanfaatan AI.

Keterampilan teknologi membutuhkan waktu untuk dikuasai. Karena itu, jangan berharap menonton beberapa video langsung membuat seseorang siap menerima proyek profesional.

Belajar, praktik, membuat proyek sendiri, kemudian membangun portofolio merupakan proses yang lebih realistis.

12. Ubah hobi menjadi keterampilan

Bermain game, menonton video, olahraga, menggambar, atau kegiatan lain tidak selalu membuang waktu.

Yang menentukan adalah bagaimana waktu tersebut digunakan.

Seseorang yang menyukai game, misalnya, dapat mempelajari edit video gaming, desain thumbnail, penyelenggaraan turnamen, komentator pertandingan, pembuatan konten, manajemen komunitas, atau bahkan pemrograman.

Seseorang yang menyukai olahraga dapat belajar menjadi fotografer olahraga, membuat konten pertandingan, melatih kemampuan tertentu, atau membantu penyelenggaraan kegiatan.

Hobi tidak harus selalu menghasilkan uang.

Namun jika sebagian waktu dari hobi dapat digunakan untuk membangun kemampuan, manfaatnya bisa bertahan lebih lama daripada sekadar menyelesaikan satu permainan.

Mulai dengan target kecil

Anak muda tidak perlu langsung memikirkan bagaimana mendapatkan jutaan rupiah.

Buat target yang lebih sederhana.

Pilih satu keterampilan.

Pelajari dasarnya.

Berlatih secara rutin.

Buat beberapa contoh karya.

Tunjukkan hasilnya kepada orang lain.

Kemudian cari orang pertama yang bersedia menggunakan atau membayar kemampuan tersebut.

Misalnya seseorang tertarik menjadi editor video.

Minggu pertama dapat digunakan mempelajari teknik dasar.

Minggu berikutnya membuat beberapa contoh video.

Setelah itu, tawarkan kepada usaha kecil, komunitas, atau orang yang membutuhkan.

Penghasilan pertama mungkin kecil. Namun pengalaman mendapatkan pelanggan, menyelesaikan pekerjaan, menerima kritik, dan memperbaiki hasil dapat menjadi modal untuk pekerjaan berikutnya.

Tidak perlu membandingkan awal perjalanan dengan orang lain yang sudah bekerja selama bertahun-tahun.

Bagi waktu antara hiburan dan masa depan

Tidak perlu berhenti bermain game, berkumpul bersama teman, atau menikmati hiburan.

Yang perlu dihindari adalah membiarkan seluruh waktu luang berlalu tanpa arah.

Sisihkan sebagian waktu setiap hari untuk belajar atau membuat sesuatu.

Satu jam yang digunakan untuk belajar edit video mungkin terasa kecil.

Namun jika dilakukan secara konsisten selama berbulan-bulan, jumlah waktu belajarnya menjadi besar.

Begitu pula dengan desain, coding, memasak, fotografi, pemasaran, servis, atau keterampilan lainnya.

Masa muda memberi satu modal yang sangat berharga: waktu untuk mencoba.

Gunakan sebagian waktu tersebut untuk membangun sesuatu yang dapat dibawa ke masa depan.

Target pertama tidak harus menjadi kaya.

Target pertama cukup mempunyai satu kemampuan yang benar-benar bisa dikerjakan, kemudian mendapatkan orang pertama yang menghargai kemampuan itu.

Dari sana, keterampilan, pengalaman, jaringan, dan penghasilan dapat tumbuh secara bertahap.