MOROWALI – Sebanyak 72 warga negara asing asal Tiongkok dievakuasi dari kawasan perusahaan di sekitar Desa Matarape, Kecamatan Sombori Kepulauan, Kabupaten Morowali, setelah bentrokan antara masyarakat dan sejumlah pekerja asing pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Evakuasi dilakukan personel gabungan pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari untuk mencegah bentrokan lanjutan.
Berdasarkan laporan kepolisian, lima warga mengalami luka dalam rangkaian kejadian tersebut. Sejumlah kendaraan, alat berat, dan fasilitas perusahaan juga dilaporkan rusak atau terbakar.
1. Aksi Berawal dari Pemalangan Jalan Hauling
Kejadian bermula dari aksi Aliansi Masyarakat Matarape Menggugat yang diikuti sekitar 30 orang sejak pukul 09.00 WITA.
Massa melakukan orasi dan pemalangan di perempatan jalan hauling menuju jetty PT Askon dengan menggunakan kayu, bambu, spanduk, serta mendirikan tenda.
Aksi membawa tuntutan agar jalan hauling dan jetty di wilayah Desa Matarape ditutup karena dinilai memberikan dampak terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Dalam pertemuan awal dengan salah seorang perwakilan manajemen perusahaan, sempat terjadi ketegangan. Sebagian massa disebut berusaha melakukan pemukulan, tetapi dapat dicegah petugas keamanan dan kepolisian.
2. Bentrokan Terjadi pada Siang Hari
Menurut laporan kepolisian, sekitar pukul 12.15 WITA sekitar 40 WNA asal Tiongkok mendatangi lokasi aksi.
Laporan tersebut menyebut sebagian dari mereka membawa tongkat kayu, besi, dan benda tajam.
Dalam perkembangan berikutnya terjadi penyerangan terhadap massa aksi dan dua kendaraan milik masyarakat dilaporkan mengalami kerusakan.
Masyarakat kemudian meninggalkan lokasi menuju perkampungan.
Petugas berupaya menenangkan warga dan meminta masyarakat tidak melakukan aksi balasan.
Namun, masyarakat kembali mendatangi lokasi pada siang hari dan kemudian terjadi saling serang antara kedua kelompok.
Kronologi mengenai siapa yang melakukan tindakan tertentu masih menjadi bagian dari penyelidikan kepolisian dan belum merupakan kesimpulan akhir proses hukum.
3. Lima Warga Dilaporkan Luka
Lima warga dilaporkan mengalami luka dalam bentrokan tersebut.
Luka yang dilaporkan meliputi luka akibat benda tajam, benda tumpul, goresan, memar, serta luka pada bagian kaki, tangan, telinga, bahu, dan lengan.
Laporan yang diterima belum memuat informasi mengenai tingkat keparahan maupun perkembangan kondisi medis kelima warga tersebut.
4. Sejumlah Kendaraan dan Alat Berat Rusak
Setelah jumlah masyarakat bertambah, terjadi perusakan dan pembakaran terhadap sejumlah kendaraan serta alat berat di sekitar jetty dan jalan hauling.
Data sementara mencatat dua kendaraan milik massa aksi mengalami kerusakan.
Sementara aset perusahaan yang dilaporkan rusak atau terbakar meliputi dua excavator, lima mobil Hilux, satu mobil dump truck, dua grader, satu bomag, serta empat pos perusahaan.
Nilai kerugian material belum disebutkan dalam laporan.
5. Massa Sempat Bergerak ke Kantor Perusahaan
Pada sore hari, jumlah masyarakat disebut bertambah menjadi sekitar 100 orang dan bergerak menuju kantor PT Askon.
Pengamanan kemudian diperkuat dengan melibatkan personel gabungan TNI-Polri dan pemerintah kecamatan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memisahkan kelompok masyarakat dengan WNA serta mencegah terjadinya bentrokan lanjutan.
6. 72 WNA Dievakuasi dari Dua Lokasi
Kapolres Morowali bersama 66 personel Polres Morowali dan satu SSK Brimob Yon C Polda Sulawesi Tengah tiba di lokasi pada Jumat malam.
Personel kemudian melakukan pencarian dan evakuasi terhadap WNA yang masih berada di kawasan perusahaan.
Sebanyak 42 WNA Tiongkok ditemukan dan dievakuasi dari Site PT KKU.
Pencarian dilanjutkan di Site PT Askon dan menghasilkan evakuasi terhadap 30 WNA Tiongkok lainnya.
Dengan demikian, total WNA yang dievakuasi dari kedua lokasi mencapai 72 orang.
Evakuasi tersebut dilakukan untuk pengamanan dan pemeriksaan lebih lanjut. Jumlah 72 orang itu tidak berarti seluruhnya telah dinyatakan terlibat dalam bentrokan.
7. WNA Dibawa ke Polres Morowali
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026 sekitar pukul 04.00 WITA, WNA yang telah dievakuasi mulai dibawa menuju Polres Morowali dengan pengawalan personel Polres Morowali dan Brimob.
Rangkaian pencarian dan evakuasi di lokasi dilaporkan selesai sekitar pukul 05.00 WITA.
Kepolisian selanjutnya melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap para WNA untuk mengetahui keterlibatan masing-masing dalam rangkaian kejadian.
Koordinasi juga direncanakan dengan pihak Imigrasi untuk memeriksa identitas, dokumen, dan status keimigrasian mereka.
8. Pengamanan Diperkuat di Matarape
Penanganan situasi melibatkan 66 personel Polres Morowali, satu SSK Brimob Yon C Polda Sulawesi Tengah, 20 personel Ditsamapta Polda Sulawesi Tenggara, 30 personel Polres Konawe Utara, 30 personel Brimob Sulawesi Tenggara, serta 33 personel BKO Polres Morowali Utara.
Personel ditempatkan di Desa Matarape, Site PT Askon, kawasan jetty, dan sejumlah titik yang dianggap perlu mendapatkan pengamanan.
Kepolisian juga melakukan pendataan korban, inventarisasi kerusakan, pemeriksaan saksi, serta penyelidikan terhadap dugaan penyerangan, penganiayaan, perusakan, dan pembakaran.
9. Polisi Dalami Keterlibatan Masing-masing Pihak
Kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat dalam tindak pidana selama rangkaian bentrokan.
Pemeriksaan terhadap saksi dan barang bukti juga menjadi bagian dari penanganan perkara.
Terhadap 72 WNA yang telah dievakuasi, pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing memiliki keterkaitan dengan kejadian atau hanya berada di kawasan perusahaan saat konflik berlangsung.
Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan pihak perusahaan juga dilibatkan dalam koordinasi untuk mencegah kembali terjadinya mobilisasi massa.
10. Situasi Sabtu Pagi
Hingga Sabtu, 3 Oktober 2026 sekitar pukul 05.00 WITA, situasi di Desa Matarape dan sekitar kawasan perusahaan dilaporkan relatif kondusif.
Personel gabungan masih disiagakan di sejumlah lokasi.
Masyarakat juga telah diminta tidak melakukan aksi balasan dan menyerahkan penanganan perkara kepada aparat penegak hukum.
Penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan rangkaian kejadian serta menentukan keterlibatan masing-masing pihak berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti.