PALU, SULTENG EASY – Posisi nilai tukar Rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per 1 Dolar Amerika Serikat (AS) tentu dirasakan dampaknya oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun di balik angka yang tinggi tersebut, tersimpan sebuah kabar baik dan peluang besar: posisi Rupiah sebenarnya sangat bisa ditarik menguat kembali secara cepat, asalkan Indonesia berani melakukan percepatan nyata di segala lini.
Kekuatan mata uang sebuah bangsa pada dasarnya tidak hanya ditentukan di meja perbankan pusat, melainkan ditentukan oleh seberapa cepat, mudah, dan produktif masyarakat serta pemerintahnya bekerja di lapangan setiap hari.
Mengambil Perbandingan Mata Uang China Saat Bersaing dengan Amerika Serikat
Sebagai perbandingan yang jelas, mari kita lihat bagaimana Tiongkok (China) menjaga ketangguhan mata uangnya ketika bersaing langsung melawan raksasa ekonomi Amerika Serikat. Di tengah persaingan dagang dunia yang begitu ketat, mata uang Yuan China mampu berdiri kokoh di kisaran 7 Yuan untuk setiap 1 Dolar AS (atau setara sekitar Rp2.400 hingga Rp2.500 per Yuan pada kurs saat ini), berdampingan dengan kekuatan industri Asia Timur lainnya seperti Jepang.
Mengapa mata uang mereka begitu tangguh menghadapi Dolar AS? Kuncinya terletak pada kecepatan produksi dan kemudahan penuh bagi rakyatnya untuk berusaha. Ketika warganya merintis usaha kecil, berdagang, atau memproduksi barang, pemerintahnya tidak datang membawa aturan tata ruang yang mematikan, melainkan memfasilitasi habis-habisan agar usaha warga tersebut cepat membesar di tempatnya dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Hitungan Penguatan Rupiah dari Posisi Rp17.000 – Rp18.000
Mengapa Rupiah kita saat ini bisa berada di angka Rp17.000 hingga Rp18.000 per Dolar AS? Salah satu penyebab utamanya di lapangan adalah masih banyaknya potensi ekonomi rakyat yang tersendat oleh birokrasi berlapis, kebijakan relokasi yang sering kali memaksa usaha warga yang baru berkembang harus mulai lagi dari nol, serta terkurasnya kas negara akibat penanganan bencana seperti Karhutla yang terlambat dicegah sejak dini.
Apabila hambatan-hambatan tersebut diputus melalui percepatan di segala lini, berikut adalah hitungan realistis penguatan posisi Rupiah kita:
1. Penguatan Tahap Pertama Menuju Kisaran Rp13.500 – Rp14.500 per Dolar AS (Menguat sekitar 20%):
Ketika masyarakat yang mandiri diberikan kemudahan penuh dalam menjalankan usahanya—tanpa dihantui relokasi mendadak—serta dilayani dengan birokrasi satu pintu langsung di tempat, maka roda produksi pangan dan barang di daerah akan langsung melesat. Ketergantungan terhadap barang impor berkurang drastis, kas negara pun hemat karena bencana dicegah jauh-jauh hari oleh tim terpadu yang terpimpin. Percepatan tahap awal ini sudah cukup untuk menarik turun beban Dolar dari Rp17.000–Rp18.000 menuju kisaran yang jauh lebih sehat di Rp13.500 hingga Rp14.500 per Dolar AS.
2. Penguatan Puncak Menuju Kisaran Rp10.500 – Rp11.500 per Dolar AS (Menguat 35%–40%):
Jika kemudahan berusaha ini dijaga secara konsisten di seluruh provinsi dan kabupaten—di mana usaha kecil masyarakat berhasil naik kelas, pertanian dan perikanan warga memiliki jaminan pasar, serta lingkungan hutan dan lahan dijaga penuh oleh lembaga khusus di bawah komando Presiden seperti usulan Badan Penyelamat Hutan dan Lahan Indonesia (BPHLI)—maka daya saing produksi kita akan sejajar dengan negara-negara maju di Asia. Pada titik inilah, kurs Rupiah memiliki pondasi kuat untuk menembus kisaran Rp10.500 hingga Rp11.500 per Dolar AS.
Percepatan di Lapangan Adalah Kunci Utama
Hitungan ini menunjukkan dengan terang bahwa membawa Rupiah menguat dari angka Rp17.000–Rp18.000 bukanlah hal yang mustahil. Rakyat Indonesia sudah memiliki modal kemandirian dan kerja keras yang luar biasa.
Begitu pemerintah mengimbangi kerja keras masyarakat tersebut dengan pemikiran ekonomi yang memudahkan usaha warga tumbuh di tempatnya, mempercepat urusan birokrasi, dan mencegah bencana sebelum terjadi, maka menguatnya posisi Rupiah adalah kabar baik yang pasti akan terwujud demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.