PALU – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi September Hitam FISIP Universitas Tadulako dan Himpunan Mahasiswa Sosiologi menggelar mimbar bebas di Taman Universitas Tadulako, Kota Palu, Rabu (16/9/2026) malam.

Kegiatan dimulai sekitar pukul 19.10 Wita dan diikuti sekitar 50 peserta.

Dalam aksi tersebut, peserta membawa sejumlah spanduk bertema September Hitam, peristiwa 1998, serta ajakan untuk tidak melupakan berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.

Massa juga menggelar aksi teatrikal dan pembacaan puisi secara bergantian sebagai bentuk refleksi terhadap sejumlah peristiwa sejarah dan persoalan HAM.

Dalam orasi, peserta menyinggung krisis dan gejolak sosial politik pada 1998 serta sejumlah peristiwa yang kerap diperingati dalam rangkaian September Hitam, termasuk pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib dan tragedi Tanjung Priok.

Mereka juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah dan meminta ruang kebebasan berpendapat tetap dijamin bagi masyarakat yang menyampaikan kritik.

Sejumlah isu nasional turut disuarakan, termasuk program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa, serta keterlibatan berbagai institusi dalam pelaksanaannya. Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan kritik yang disampaikan peserta mimbar bebas.

Selain isu nasional, massa turut menyinggung persoalan dana bagi hasil daerah serta mendorong kelanjutan pembahasan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset.

Mereka menilai regulasi tersebut penting sebagai salah satu instrumen dalam upaya pemberantasan korupsi.

Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 21.35 Wita dan ditutup dengan foto bersama. Setelah itu, peserta membubarkan diri dengan tertib.