PALU – Membuat produk terkadang terasa lebih mudah dibandingkan mencari orang pertama yang benar-benar bersedia membelinya.
Usaha mungkin sudah mempunyai nama, kemasan, akun media sosial, bahkan stok produk. Namun jika belum ada orang yang melakukan transaksi, usaha tersebut sebenarnya masih perlu membuktikan satu hal penting: apakah ada pasar yang membutuhkan produk atau jasa yang ditawarkan?
Karena itu, mendapatkan pelanggan pertama menjadi tahap penting bagi usaha yang baru dimulai.
Pelanggan pertama tidak harus datang dari iklan besar atau dari ribuan pengikut di media sosial. Justru pada tahap awal, pemilik usaha dapat memulai dari langkah sederhana dan biaya yang dapat dikendalikan.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan.
1. Tentukan siapa yang kemungkinan membutuhkan produk
Jangan menawarkan produk kepada semua orang sekaligus.
Coba tentukan lebih dahulu siapa yang paling mungkin membutuhkan barang atau jasa tersebut.
Misalnya seseorang menjual makanan untuk makan siang. Calon pembelinya mungkin pekerja kantor, mahasiswa, pekerja toko, atau masyarakat di sekitar lokasi usaha.
Jika menawarkan jasa membersihkan rumah, calon pelanggan tentu berbeda.
Semakin jelas calon pembelinya, semakin mudah menentukan tempat dan cara menawarkan produk.
Pertanyaan sederhananya adalah:
Siapa yang mempunyai masalah yang bisa diselesaikan oleh produk saya?
Siapa yang paling mungkin membutuhkannya?
Di mana mereka biasanya berada?
Berapa harga yang kemungkinan masih dapat mereka terima?
2. Mulai dari lingkungan yang sudah dikenal
Pelanggan pertama dapat berasal dari tetangga, teman, keluarga, rekan kerja, komunitas, atau orang yang sudah mengenal pemilik usaha.
Namun jangan sekadar meminta mereka membeli karena hubungan pertemanan.
Tawarkan produk seperti kepada pelanggan biasa.
Jelaskan apa yang dijual, berapa harganya, apa manfaatnya, bagaimana cara memesan, serta kapan produk tersedia.
Tujuannya bukan mendapatkan pembelian karena rasa kasihan, tetapi mengetahui apakah produk memang memiliki nilai bagi orang lain.
3. Tawarkan secara langsung
Pada tahap awal, jangan hanya mengunggah produk kemudian menunggu seseorang datang.
Cobalah menawarkan secara aktif kepada orang yang memang berpotensi membutuhkan.
Misalnya:
“Besok saya membuat nasi kotak untuk makan siang, harganya Rp20.000. Jika berminat, pesanan ditutup malam ini.”
Penawaran seperti itu lebih jelas dibandingkan hanya menulis:
“Jangan lupa order ya.”
Calon pelanggan perlu mengetahui apa produknya, berapa harganya, bagaimana mendapatkannya, dan kapan tersedia.
4. Gunakan foto dan informasi yang jelas
Jika berjualan melalui WhatsApp atau media sosial, calon pembeli tidak dapat memegang produk secara langsung.
Karena itu, tampilkan foto yang jelas dan informasi yang cukup.
Cantumkan:
- nama produk;
- harga;
- ukuran atau jumlah;
- lokasi;
- cara pemesanan;
- pilihan pembayaran; dan
- waktu pengiriman atau pengambilan.
Jangan membuat calon pembeli harus bertanya harga untuk mengetahui informasi paling dasar.
Semakin mudah informasi ditemukan, semakin sedikit hambatan sebelum seseorang memutuskan membeli.
5. Jelaskan manfaat, bukan hanya produknya
Calon pelanggan biasanya lebih tertarik pada manfaat yang mereka peroleh.
Misalnya seseorang menjual jasa cuci sepatu.
Daripada hanya menulis:
“Jasa cuci sepatu tersedia.”
Penawaran dapat dibuat lebih jelas:
“Tidak sempat membersihkan sepatu? Kami menerima pencucian sepatu dengan layanan antar-jemput untuk area tertentu.”
Produk yang sama dapat terlihat lebih relevan ketika calon pelanggan memahami masalah apa yang dibantu diselesaikan.
6. Gunakan WhatsApp dan media sosial secara sederhana
Ponsel dapat menjadi etalase awal usaha.
WhatsApp dapat digunakan untuk mengirim katalog, membuat status, menerima pesanan, dan berkomunikasi dengan pelanggan.
Facebook, Instagram, TikTok, atau platform lain dapat digunakan sesuai karakter calon pembeli.
Tidak perlu langsung menggunakan semua platform.
Jika calon pelanggan paling banyak berada di WhatsApp dan Facebook, fokuslah di sana terlebih dahulu.
Kementerian Komunikasi dan Digital juga mendorong pelaku UMKM memanfaatkan platform digital untuk promosi, membangun identitas usaha, dan memperluas jangkauan pasar.
Namun tujuan awalnya bukan mengejar jumlah pengikut.
Yang lebih penting adalah apakah aktivitas tersebut menghasilkan pertanyaan, pesanan, atau transaksi.
7. Buat penawaran pertama yang mudah dicoba
Calon pelanggan yang belum mengenal usaha biasanya masih ragu.
Karena itu, bila memungkinkan buat produk atau layanan yang mudah dicoba.
Misalnya menjual makanan dalam ukuran reguler sebelum menawarkan paket besar, membuka pesanan dalam jumlah terbatas, atau menyediakan layanan sederhana sebelum menawarkan paket yang lebih mahal.
Namun tidak perlu selalu memberikan harga terlalu murah.
Diskon besar memang dapat menarik orang, tetapi belum tentu menunjukkan apakah pelanggan bersedia membeli dengan harga normal.
Tujuan awal adalah menguji apakah produk mempunyai nilai, bukan membiasakan pelanggan membeli hanya ketika ada potongan harga.
8. Bangun kepercayaan sejak transaksi pertama
Pelanggan pertama sedang menilai lebih dari sekadar produk.
Mereka juga melihat apakah penjual dapat dipercaya.
Jika berjanji pesanan selesai pukul 15.00, usahakan selesai sesuai waktu.
Jika terjadi keterlambatan, beri tahu pelanggan.
Jika produk mempunyai kekurangan, jangan menyembunyikannya.
Komdigi dalam pelatihan pemasaran digital bagi UMKM juga menempatkan pembangunan kepercayaan dan komunikasi dengan calon pelanggan sebagai bagian penting dalam mendorong terjadinya transaksi.
Satu pelanggan yang mendapatkan pengalaman baik dapat kembali membeli atau merekomendasikan usaha kepada orang lain.
9. Minta pendapat setelah pelanggan membeli
Setelah pelanggan pertama melakukan transaksi, jangan berhenti pada ucapan terima kasih.
Tanyakan secara sederhana:
Bagaimana produknya?
Apa yang disukai?
Apa yang kurang?
Apakah harganya terasa sesuai?
Apakah ada sesuatu yang perlu diperbaiki?
Tidak semua saran harus langsung diikuti.
Namun jika beberapa pelanggan memberikan keluhan yang sama, informasi tersebut patut diperhatikan.
Pelanggan pertama bukan hanya sumber pendapatan, tetapi juga sumber informasi mengenai bagaimana produk diterima pasar.
10. Jangan membeli banyak stok sebelum ada bukti permintaan
Mendapatkan pelanggan pertama juga merupakan proses menguji pasar.
Misalnya seseorang berencana menjual 100 produk.
Daripada langsung membuat 100, coba tawarkan 10 atau 20 terlebih dahulu.
Jika produk cepat terjual dan pembeli memberikan respons baik, jumlah produksi dapat dinaikkan secara bertahap.
Jika ternyata sulit terjual, pemilik masih dapat memperbaiki produk tanpa menanggung terlalu banyak stok.
Cara seperti ini membantu menjaga modal ketika usaha masih dalam tahap percobaan.
11. Catat dari mana pelanggan mengetahui usaha
Setiap kali mendapat pelanggan, coba cari tahu bagaimana mereka menemukan produk.
Apakah dari:
- teman;
- WhatsApp;
- Facebook;
- TikTok;
- rekomendasi pelanggan lain;
- marketplace; atau
- melihat langsung lokasi usaha.
Informasi tersebut membantu menentukan saluran pemasaran mana yang benar-benar menghasilkan pembeli.
Jika 8 dari 10 pelanggan datang dari WhatsApp, mungkin usaha belum perlu menghabiskan banyak waktu pada platform lain.
12. Jangan tertipu angka pengikut
Akun dengan 5.000 pengikut belum tentu menghasilkan lebih banyak penjualan dibandingkan akun dengan 200 pengikut.
Yang dibutuhkan usaha adalah orang yang tepat, bukan sekadar angka besar.
Misalnya hanya 50 orang yang mengetahui usaha, tetapi 10 di antaranya menjadi pelanggan. Itu lebih berguna dibandingkan ribuan orang melihat konten tanpa ada satu pun yang membeli.
Pada tahap awal, ukur kemajuan dari transaksi dan respons calon pelanggan, bukan semata-mata jumlah penonton atau pengikut.
13. Minta rekomendasi dari pelanggan yang puas
Setelah pelanggan merasa puas, tidak ada salahnya meminta mereka merekomendasikan produk kepada orang lain.
Lakukan dengan wajar.
Misalnya:
“Kalau cocok, boleh rekomendasikan ke teman yang membutuhkan.”
Rekomendasi menjadi penting bagi usaha baru karena calon pelanggan berikutnya mendapatkan informasi dari orang yang sudah pernah mencoba produk.
Namun jangan meminta testimoni palsu atau membuat ulasan sendiri seolah berasal dari pelanggan.
Kepercayaan yang dibangun perlahan dapat rusak hanya karena pemilik usaha terlalu bersemangat terlihat populer.
14. Jangan kecewa jika penawaran pertama ditolak
Tidak semua orang yang ditawari akan membeli.
Penolakan belum tentu berarti produknya buruk.
Mungkin orang tersebut memang tidak membutuhkan produk, waktunya tidak tepat, harganya belum sesuai, atau penawarannya kurang jelas.
Yang perlu diperhatikan adalah pola.
Jika 2 orang menolak, itu belum memberikan banyak informasi.
Tetapi jika puluhan calon pelanggan menolak dengan alasan harga terlalu tinggi, produk tidak dibutuhkan, atau cara pesan terlalu rumit, pemilik perlu melakukan evaluasi.
15. Fokus dari pelanggan pertama menuju pelanggan kedua
Mendapatkan satu pelanggan adalah awal, bukan tujuan akhir.
Setelah transaksi pertama berhasil, cari tahu apa yang membuat orang tersebut membeli.
Kemudian gunakan pelajaran itu untuk mendapatkan pelanggan berikutnya.
Misalnya pelanggan pertama membeli karena:
- harga sesuai;
- lokasinya dekat;
- pengiriman cepat;
- rasanya cocok;
- pelayanan mudah;
- produk menyelesaikan kebutuhannya; atau
- mendapat rekomendasi.
Faktor tersebut dapat menjadi petunjuk untuk memperbaiki cara menawarkan usaha.
Tidak perlu menunggu usaha terlihat sempurna sebelum mencari pelanggan.
Produk yang layak, harga yang sudah dihitung, informasi yang jelas, dan kemampuan memenuhi pesanan sudah cukup untuk mulai menguji pasar.
Logo dapat diperbaiki. Foto produk dapat diperbarui. Kemasan dapat dikembangkan. Akun media sosial dapat bertambah pengikutnya secara bertahap.
Tetapi sebelum mengeluarkan banyak biaya untuk semua itu, ada satu pertanyaan yang lebih penting:
Apakah ada seseorang yang bersedia membayar untuk produk atau jasa yang ditawarkan?
Dapatkan pelanggan pertama.
Layani dengan baik.
Pelajari mengapa mereka membeli.
Kemudian gunakan pengetahuan tersebut untuk mencari pelanggan kedua.
Pertumbuhan usaha dapat dimulai dari langkah sesederhana itu.