JAKARTA – Pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian menjelang akhir September 2026, bukan hanya karena kurs semakin dekat dengan Rp18.000 per dolar AS, tetapi juga karena dampaknya terhadap biaya hidup masyarakat.
Pada perdagangan Senin, 28 September 2026, rupiah ditutup di posisi Rp17.978 per dolar AS setelah sempat bergerak melewati Rp18.000 dalam perdagangan intraday.
Tekanan nilai tukar menjadi semakin penting ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga barang, sementara sebagian masyarakat menghadapi pendapatan yang tidak meningkat secepat biaya hidup atau bahkan mengalami penurunan pendapatan.
Dalam kondisi seperti itu, persoalan utama bukan semata-mata angka kurs, melainkan kemampuan masyarakat mempertahankan daya beli.
1. Rupiah Lemah Bisa Mendorong Biaya Barang Impor
Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, masyarakat dan perusahaan membutuhkan rupiah lebih banyak untuk membeli barang dengan harga dalam dolar.
Dampaknya paling langsung dirasakan pada barang impor serta bahan baku, mesin, komponen produksi, obat-obatan, energi, dan sejumlah kebutuhan industri yang berkaitan dengan perdagangan internasional.
Kenaikan biaya impor dapat meningkatkan biaya produksi perusahaan.
Jika biaya tersebut kemudian diteruskan kepada konsumen, harga barang di dalam negeri dapat ikut meningkat. Mekanisme ini dikenal sebagai imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan biaya barang dan jasa dari luar negeri.
Namun, pelemahan rupiah tidak berarti semua harga otomatis naik dalam persentase yang sama.
Dampaknya bergantung pada kandungan impor, stok barang, kontrak pembelian, kemampuan perusahaan menyerap biaya, kebijakan subsidi, hingga kondisi persaingan pasar.
2. Inflasi Nasional Sudah Berada di 3,19 Persen
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan.
Artinya, secara rata-rata tingkat harga barang dan jasa yang masuk dalam perhitungan Indeks Harga Konsumen lebih tinggi 3,19 persen dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.
Inflasi bulanan pada Agustus tercatat 0,21 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,86 persen.
Inflasi tersebut masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5±1 persen.
Meski demikian, dampak inflasi terhadap setiap rumah tangga tidak selalu sama.
Keluarga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk makanan, transportasi, listrik, pendidikan, dan kebutuhan pokok lainnya dapat merasakan tekanan lebih besar apabila harga kebutuhan tersebut naik lebih cepat.
3. Pendapatan Naik Belum Tentu Daya Beli Ikut Naik
Data BPS menunjukkan rata-rata upah buruh nasional pada Mei 2026 mencapai sekitar Rp3,39 juta per bulan.
Angka tersebut meningkat dibandingkan Februari 2026 yang sekitar Rp3,29 juta.
Namun, kenaikan upah nominal tidak otomatis berarti kemampuan membeli barang dan jasa meningkat dalam jumlah yang sama.
Yang lebih menentukan adalah pendapatan riil, yakni pendapatan setelah memperhitungkan kenaikan harga.
Sebagai ilustrasi sederhana, seseorang yang memperoleh pendapatan Rp3 juta per bulan dan tidak mengalami kenaikan penghasilan selama setahun akan menghadapi penurunan kemampuan membeli apabila harga rata-rata meningkat 3,19 persen.
Dalam nilai riil, Rp3 juta tersebut hanya memiliki daya beli sekitar Rp2,91 juta jika dibandingkan dengan tingkat harga setahun sebelumnya.
Perhitungan tersebut hanya ilustrasi matematis untuk menggambarkan dampak inflasi dan bukan ukuran pendapatan rata-rata seluruh masyarakat.
4. Pendapatan Turun Membuat Tekanan Berlipat
Situasi menjadi lebih berat bagi masyarakat yang tidak hanya menghadapi kenaikan harga, tetapi juga mengalami penurunan pendapatan.
Sebagai contoh, jika pendapatan seseorang turun dari Rp3 juta menjadi Rp2,8 juta per bulan sementara tingkat harga naik 3,19 persen, kemampuan belanja riilnya menjadi sekitar Rp2,71 juta dalam nilai harga tahun sebelumnya.
Dengan kata lain, tekanan datang dari dua arah sekaligus: uang yang diterima berkurang sementara barang dan jasa menjadi lebih mahal.
Dalam kondisi seperti ini, rumah tangga biasanya mulai melakukan penyesuaian pengeluaran.
Belanja yang tidak dianggap mendesak dapat ditunda, konsumsi dikurangi, pilihan barang diganti dengan produk yang lebih murah, atau tabungan digunakan untuk menutup kebutuhan rutin.
5. Bank Dunia Soroti Tekanan pada Upah Riil
Persoalan pendapatan riil Indonesia juga mendapat perhatian Bank Dunia.
Dalam Indonesia Economic Prospects 2026, Bank Dunia mencatat upah riil pekerja berkeahlian menengah turun sekitar 1 persen per tahun selama periode 2018–2025.
Pada kelompok pekerja berkeahlian tinggi, upah riil turun sekitar 2 persen per tahun.
Secara keseluruhan, median upah riil turun sekitar 0,5 persen per tahun selama periode tersebut.
Pada saat yang sama, proporsi pekerja yang memperoleh pendapatan setara kelompok kelas menengah turun dari 14,5 persen pada 2018 menjadi sekitar 7,1 persen pada 2025.
Data tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan jumlah pekerjaan tidak selalu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pekerjaan dan pendapatan riil.
6. Sulawesi Tengah Juga Menghadapi Tantangan Kualitas Pekerjaan
Situasi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah memberikan gambaran tambahan mengenai tantangan pendapatan masyarakat.
BPS Sulawesi Tengah mencatat jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai sekitar 1,63 juta orang.
Tingkat Pengangguran Terbuka berada di 2,97 persen.
Namun, tingkat setengah pengangguran meningkat menjadi 8,15 persen.
Pekerja yang masuk kegiatan formal tercatat sekitar 577,66 ribu orang atau 35,36 persen dari total penduduk bekerja.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengangguran tidak otomatis berarti seluruh masyarakat memiliki pekerjaan dengan jam kerja penuh dan pendapatan stabil.
Setengah penganggur adalah mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.
7. Harga di Sulteng Tetap Menjadi Perhatian
Sulawesi Tengah mencatat inflasi tahunan sebesar 2,86 persen pada Juli 2026.
Pada Juni, inflasi Sulteng bahkan sempat mencapai 3,83 persen secara tahunan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang penting tekanan inflasi, dengan sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan harga.
Karena kebutuhan pangan sulit ditunda, kenaikan harga kelompok ini mempunyai pengaruh langsung terhadap anggaran rumah tangga.
Masyarakat berpendapatan rendah juga cenderung menggunakan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan sehari-hari sehingga ruang untuk mengurangi pengeluaran menjadi lebih sempit.
8. UMKM Bisa Tertekan dari Dua Arah
Pelemahan daya beli tidak hanya berdampak pada rumah tangga.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah juga dapat menghadapi tekanan dari dua arah.
Di sisi produksi, harga bahan baku, kemasan, peralatan, energi, atau komponen yang berkaitan dengan impor dapat meningkat ketika rupiah melemah.
Di sisi penjualan, konsumen yang menghadapi tekanan biaya hidup cenderung lebih berhati-hati membelanjakan uang.
Jika pelaku usaha menaikkan harga, risiko penjualan turun menjadi lebih besar. Tetapi jika harga tidak dinaikkan, margin keuntungan dapat semakin tipis.
Kondisi seperti ini dapat membuat pelaku usaha menahan ekspansi, menunda pembelian peralatan, mengurangi produksi, atau lebih berhati-hati menambah pekerja.
9. Daya Beli Bisa Menjadi Masalah bagi Ekonomi yang Lebih Luas
Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam perekonomian Indonesia.
Ketika pendapatan riil melemah, masyarakat biasanya memprioritaskan kebutuhan paling penting dan mengurangi belanja lainnya.
Jika terjadi secara luas dan berlangsung lama, penurunan konsumsi dapat merambat ke perdagangan, restoran, jasa, transportasi, industri barang konsumsi, hingga UMKM.
Penurunan permintaan kemudian berpotensi memengaruhi pendapatan pelaku usaha dan kesempatan kerja.
Karena itu, hubungan antara kurs, inflasi, pendapatan, dan konsumsi dapat membentuk lingkaran yang saling memengaruhi.
10. Tidak Semua Sektor Dirugikan Rupiah Lemah
Pelemahan rupiah juga tidak menghasilkan dampak yang sama bagi semua sektor.
Perusahaan eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS tetapi memiliki sebagian besar biaya dalam rupiah dapat memperoleh keuntungan ketika mata uang domestik melemah.
Penerima remitansi dalam dolar juga memperoleh lebih banyak rupiah ketika menukarkan valuta asing.
Produk dalam negeri tertentu dapat menjadi lebih kompetitif dibandingkan barang impor yang semakin mahal.
Namun, keuntungan tersebut tidak tersebar merata kepada seluruh masyarakat.
Rumah tangga yang pendapatannya hanya dalam rupiah dan tidak mengalami peningkatan penghasilan dapat lebih rentan terhadap kenaikan biaya hidup.
11. Bank Indonesia Fokus Menjaga Rupiah dan Inflasi
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen pada September 2026.
BI menyatakan keputusan tersebut konsisten dengan strategi menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal sekaligus mempertahankan inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen.
Bank sentral juga memperkuat kebijakan untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas pasar valuta asing.
Kebijakan tersebut penting karena pelemahan rupiah yang terlalu dalam dapat meningkatkan risiko inflasi melalui kenaikan harga barang impor.
Namun, kebijakan moneter juga menghadapi keseimbangan yang tidak sederhana.
Suku bunga yang tinggi dapat membantu menjaga nilai tukar dan inflasi, tetapi biaya pembiayaan bagi rumah tangga dan dunia usaha juga dapat bertahan lebih mahal.
12. Daya Beli Menjadi Taruhan Utama
Rupiah yang melemah tidak otomatis berarti seluruh masyarakat langsung kehilangan kesejahteraan.
Namun, risiko meningkat ketika pelemahan berlangsung cukup lama, biaya impor naik, inflasi bertahan, sementara pendapatan riil masyarakat tidak mampu mengikuti.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat mungkin tetap menerima jumlah rupiah yang sama setiap bulan, tetapi jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli semakin sedikit.
Bagi mereka yang pendapatannya menurun, tekanan menjadi lebih besar lagi.
Karena itu, tantangan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari apakah rupiah berada di Rp17.000 atau Rp18.000 per dolar AS.
Hal yang jauh lebih menentukan bagi kehidupan sehari-hari adalah apakah pertumbuhan pendapatan mampu mengejar kenaikan biaya hidup.
Selama selisih tersebut semakin lebar, daya beli masyarakat akan menjadi salah satu taruhan terbesar dari tekanan rupiah dan inflasi.